TVRINews, Badung
Di tengah meningkatnya perhatian global terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan pariwisata, industri perhotelan di Bali memperkuat komitmen dalam pengelolaan sampah mandiri. Pelaku usaha yang tergabung dalam Bali Hotel Association (BHA) juga mulai mendorong kolaborasi investasi teknologi pengolahan limbah yang lebih ramah lingkungan.
Pengurus BHA, Franklyn Kocek, mengungkapkan bahwa teknologi pengolahan sampah, khususnya limbah organik menjadi kompos, sebenarnya sudah tersedia. Namun, biaya investasi yang tinggi masih menjadi kendala bagi sebagian hotel.
“Teknologi itu ada, tetapi harganya relatif mahal jika harus dimiliki masing-masing hotel. Karena itu, kami mempertimbangkan skema pengadaan kolektif agar lebih efisien,” ujarnya.
Andalkan Pemilahan dan Teba Modern
Saat ini, sebagian besar hotel anggota BHA masih mengedepankan pengelolaan sampah berbasis sumber. Langkah tersebut dilakukan melalui pemilahan limbah secara ketat, pengolahan organik mandiri, serta penerapan konsep teba modern—sistem pengolahan sampah organik berbasis kearifan lokal Bali yang dikombinasikan dengan pendekatan modern.
Selain itu, sektor perhotelan juga bekerja sama dengan pihak ketiga untuk menangani limbah, terutama dari sektor food and beverage (F&B), yang menjadi salah satu penyumbang utama sampah organik.
Sebagai bagian dari standarisasi, BHA yang beranggotakan 163 hotel—didominasi hotel bintang empat dan lima—tengah menyusun daftar vendor pengelola sampah bersertifikasi. Langkah ini diharapkan membantu hotel memilih mitra yang kredibel sekaligus memastikan pengelolaan limbah sesuai standar lingkungan.
Sektor Horeka Sumbang 30–40 Persen Sampah
Data Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Badung menunjukkan sektor hotel, restoran, dan kafe (horeka) menyumbang sekitar 30 hingga 40 persen dari total timbulan sampah di wilayah tersebut. Dari jumlah itu, sekitar 70 persen merupakan sampah organik.
Kondisi ini menjadi perhatian serius, terutama di tengah meningkatnya tekanan terhadap Bali terkait persoalan sampah yang berpotensi memengaruhi daya tarik pariwisata.
Dorong Teknologi Waste-to-Energy
Menghadapi kondisi yang kerap disebut sebagai darurat sampah, pelaku industri horeka juga mendorong percepatan penerapan teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik (waste-to-energy). Teknologi ini dinilai mampu menjadi solusi jangka panjang dalam mengurangi penumpukan sampah sekaligus menghasilkan energi alternatif.
Upaya tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam mendorong pengelolaan sampah terpadu melalui pembangunan fasilitas pengolahan limbah modern di Bali.
Namun, pelaku industri menilai solusi teknologi harus dibarengi perubahan perilaku masyarakat dan sistem pengelolaan dari hulu. Tanpa pemilahan sampah yang baik, efektivitas teknologi pengolahan lanjutan dinilai tidak akan optimal.
Jaga Citra Pariwisata Bali
Dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan pascapandemi, isu lingkungan menjadi semakin krusial bagi keberlanjutan pariwisata Bali. Pengelolaan sampah yang tidak optimal berisiko merusak citra Pulau Dewata sebagai destinasi wisata unggulan dunia.
Karena itu, komitmen industri perhotelan dalam mengelola limbah secara mandiri dinilai sebagai langkah strategis. Kolaborasi antara pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan serta daya saing pariwisata Bali di tingkat global










