TVRINews, Badung
Gubernur Bali Wayan Koster bersama Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa melakukan ground breaking pembangunan Jalan Lingkar Selatan (JLS) serta jalan shortcut Berawa–Umalas–Kedampal–Teuku Umar Barat di kawasan Labuan Sait, Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, pada siang hari.
Pembangunan dua proyek strategis tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mengatasi kemacetan yang selama ini menjadi salah satu tantangan utama sektor pariwisata di Bali, khususnya di Kabupaten Badung.
Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa mengatakan, pembangunan infrastruktur jalan menjadi kebutuhan yang mendesak mengingat Badung merupakan daerah dengan pendapatan asli daerah (PAD) tertinggi di Bali yang sebagian besar ditopang oleh sektor pariwisata. Menurutnya, keberlanjutan industri pariwisata sangat bergantung pada kualitas infrastruktur dan kelancaran mobilitas masyarakat maupun wisatawan.
Ia menjelaskan, dalam beberapa tahun terakhir persoalan kemacetan menjadi salah satu keluhan utama wisatawan dan pelaku usaha pariwisata. Apabila tidak segera diatasi, kondisi tersebut dikhawatirkan dapat menurunkan daya saing Bali sebagai destinasi wisata internasional.
"Badung hidup dari sektor pariwisata. Oleh karena itu, menjaga kualitas layanan, termasuk kemudahan akses dan kelancaran transportasi, menjadi tanggung jawab pemerintah daerah," ujarnya, Senin, 27 Juli 2026.
Menurut Adi Arnawa, hasil pemetaan Pemerintah Kabupaten Badung menunjukkan terdapat sejumlah titik kemacetan yang memerlukan penanganan segera. Di wilayah Badung Selatan, terdapat empat simpul kemacetan utama, yakni Simpang Udayana, Simpang Garuda Wisnu Kencana (GWK), Simpang Pecatu, dan Simpang Siligita. Sementara itu, di wilayah Badung Tengah terdapat delapan titik kemacetan yang selama ini kerap mengalami kepadatan kendaraan, terutama pada jam sibuk dan musim liburan.
Sebagai solusi jangka panjang, Pemerintah Kabupaten Badung membangun Jalan Lingkar Selatan yang akan menghubungkan sejumlah kawasan strategis di wilayah selatan.
Jalan baru tersebut akan membentang sepanjang sekitar 29,9 kilometer, melintasi trase Pecatu–Pura Kulat–Labuan Sait–Pedati–Pantai Balangan–Jimbaran Hijau hingga menuju kawasan Jimbaran. Kehadiran ruas jalan ini diharapkan dapat menjadi jalur alternatif bagi kendaraan yang selama ini terkonsentrasi di jalan-jalan utama menuju kawasan wisata Uluwatu, Pecatu, Jimbaran, hingga Nusa Dua.
Selain Jalan Lingkar Selatan, pemerintah juga membangun jalan shortcut Berawa–Umalas–Kedampal–Teuku Umar Barat di wilayah Badung Tengah. Ruas jalan sepanjang 4,779 kilometer tersebut dirancang untuk mengurai kepadatan lalu lintas yang selama ini terjadi di kawasan Canggu, Berawa, Umalas, Kerobokan, hingga akses menuju Kota Denpasar.

Secara keseluruhan, pembangunan kedua proyek infrastruktur tersebut menelan anggaran sekitar Rp979 miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Badung.
Pemerintah Kabupaten Badung berharap proyek ini tidak hanya memperlancar arus lalu lintas, tetapi juga membuka konektivitas baru antarwilayah, mempercepat distribusi barang dan jasa, serta mendukung pemerataan pertumbuhan ekonomi di kawasan selatan Bali.
Gubernur Bali Wayan Koster memberikan apresiasi atas inisiatif Pemerintah Kabupaten Badung yang dinilai mengambil langkah konkret dalam mengatasi persoalan kemacetan yang selama ini menjadi perhatian masyarakat maupun wisatawan.
Menurut Koster, kemacetan tidak lagi menjadi persoalan Kabupaten Badung semata, melainkan telah menjadi tantangan bersama bagi Bali sebagai destinasi pariwisata dunia. Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur transportasi harus menjadi prioritas agar mampu mengimbangi pesatnya pertumbuhan jumlah kendaraan dan meningkatnya kunjungan wisatawan.
Ia menilai pembangunan Jalan Lingkar Selatan dan shortcut Berawa–Teuku Umar Barat merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas infrastruktur transportasi sekaligus menjaga daya saing pariwisata Bali di tengah persaingan global.
"Kemacetan harus ditangani secara serius. Bali tidak boleh kalah bersaing dengan destinasi wisata di negara lain hanya karena persoalan infrastruktur dan transportasi," kata Koster.
Gubernur juga menegaskan bahwa pembangunan jalan baru harus diintegrasikan dengan pengembangan sistem transportasi publik yang lebih modern dan efisien. Menurutnya, penambahan kapasitas jalan saja tidak akan cukup apabila tidak dibarengi dengan penyediaan moda transportasi massal yang mampu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi.
Dalam kesempatan tersebut, Koster turut menyinggung besarnya potensi penerimaan Pajak Hotel dan Restoran (PHR) Kabupaten Badung yang ditargetkan mencapai Rp6,3 triliun pada tahun 2026. Menurutnya, penerimaan tersebut harus dimanfaatkan secara optimal untuk membiayai pembangunan infrastruktur strategis yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat dan sektor pariwisata.
Ia menekankan bahwa penggunaan anggaran daerah perlu diarahkan pada proyek-proyek yang mampu meningkatkan kualitas pelayanan publik, termasuk pembangunan jalan, pengembangan transportasi massal, serta infrastruktur pendukung lainnya guna menciptakan sistem mobilitas yang lebih baik di Bali.
Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Kabupaten Badung berharap pembangunan Jalan Lingkar Selatan dan shortcut Berawa–Umalas–Kedampal–Teuku Umar Barat dapat menjadi solusi jangka panjang dalam mengurangi kepadatan lalu lintas di kawasan pariwisata.
Selain meningkatkan kenyamanan masyarakat dan wisatawan, proyek ini juga diharapkan mampu memperkuat konektivitas antardestinasi, meningkatkan efisiensi perjalanan, serta menjaga daya saing Bali sebagai salah satu destinasi wisata unggulan dunia.









