TVRINews, Badung
Gelaran Piala Dunia 2026 tidak hanya menghadirkan euforia bagi penggemar sepak bola, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Hal ini dirasakan sebuah warung kopi di jalur utama menuju Kuta, Kabupaten Badung, yang menggelar nonton bareng secara rutin.
Sejak babak 32 besar, warung kopi tersebut menayangkan pertandingan menggunakan proyektor dan layar lebar untuk memberikan pengalaman menonton bersama yang lebih nyaman bagi pelanggan. Cara ini menarik minat pengunjung yang ingin menikmati pertandingan dalam suasana ramai.
Sejak sore, pelanggan mulai berdatangan ke lokasi. Menjelang pertandingan dimulai, jumlah pengunjung terus meningkat hingga memenuhi area tempat duduk yang tersedia. Pengelola warung juga menghias lokasi dengan atribut bertema sepak bola, seperti bendera negara peserta dan dekorasi bernuansa kompetisi internasional. Suasana tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
Selain itu, penyelenggaraan nobar dilakukan secara resmi. Pengelola telah mengurus izin penayangan pertandingan kepada TVRI sebagai pemegang hak siar Piala Dunia 2026 di Indonesia. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan tayangan yang dinikmati masyarakat berasal dari sumber resmi dengan kualitas siaran yang baik, sekaligus mematuhi ketentuan hak siar.
Warung kopi ini juga menyediakan berbagai menu dengan harga terjangkau, mulai dari kopi, donat, roti bakar, hingga mi goreng dan mi rebus telur, dengan kisaran harga Rp7.000 hingga Rp20.000.
Barista warung kopi, Gus Yodha, mengatakan kegiatan nobar berdampak langsung terhadap peningkatan penjualan, terutama pada menu kopi.
"Antusiasme pengunjung selama nobar cukup tinggi. Penjualan kopi juga meningkat, rata-rata bisa mencapai sekitar 20 sampai 30 gelas per hari selama ada pertandingan Piala Dunia," ujar Gus Yodha, Kamis, 2 Juli 2026.
Menurutnya, peningkatan pengunjung mulai terasa sejak babak gugur. Banyak pelanggan memilih menonton di warung kopi karena ingin menikmati suasana pertandingan bersama. Namun, pelaksanaan nobar juga menghadapi tantangan. Banyak pertandingan berlangsung pada dini hari hingga pagi, sehingga pengelola harus menyesuaikan jam operasional.
Gus Yodha mengakui dirinya dan tim harus mengurangi waktu istirahat demi tetap melayani pelanggan yang datang pada malam hingga pagi hari.
"Memang tantangannya cukup besar karena pertandingan banyak yang berlangsung dini hari. Kami harus tetap membuka warung dan melayani pelanggan meskipun jam istirahat berkurang. Tapi kami optimistis momen Piala Dunia bisa memberikan dampak positif bagi usaha kami," katanya.
Fenomena nobar Piala Dunia juga terjadi di sejumlah daerah lain. Banyak pelaku UMKM, kafe, dan rumah makan memanfaatkan momentum ini untuk menarik pelanggan melalui kegiatan serupa.
Selain meningkatkan omzet, nobar juga menjadi ruang interaksi sosial bagi masyarakat yang datang untuk menonton, berdiskusi, dan mendukung tim favorit bersama.
Dengan siaran resmi melalui TVRI dan tingginya antusiasme masyarakat, pelaku usaha berharap peningkatan pengunjung dapat terus bertahan hingga turnamen berakhir.










