TVRINews, Denpasar
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat inflasi sebesar 0,71 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Juni 2026. Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Bali berada di level 3,27 persen. Sementara itu, inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) menunjukkan tren kenaikan sejak awal tahun.
Kenaikan inflasi pada Juni terutama dipicu oleh kelompok transportasi serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Dua kelompok ini menjadi penyumbang terbesar terhadap laju inflasi di Bali seiring naiknya harga komoditas strategis dan biaya mobilitas masyarakat.
Kepala BPS Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, menyampaikan kelompok transportasi memberikan andil inflasi terbesar.
“Kelompok transportasi memberikan andil inflasi terbesar, yakni mencapai 0,30 persen. Kondisi ini terutama dipengaruhi oleh naiknya harga bensin yang menjadi komoditas dengan kontribusi inflasi paling besar selama Juni,” ujar Agus, Kamis, 2 Juli 2026.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang inflasi sebesar 0,21 persen. Kenaikan harga sejumlah komoditas hortikultura dan bahan pangan pokok masih menjadi faktor utama.
Selain dua kelompok tersebut, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan andil 0,09 persen, diikuti kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,03 persen. Kelompok pengeluaran lain juga mengalami kenaikan harga, meski dengan kontribusi lebih kecil terhadap inflasi keseluruhan.
Dari sisi komoditas, bensin menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,31 persen. Kenaikan harga bahan bakar ini berdampak langsung pada biaya transportasi dan distribusi barang, yang kemudian ikut memengaruhi harga komoditas lain.
Sejumlah komoditas pangan juga mengalami kenaikan harga, di antaranya bawang merah dengan andil 0,10 persen, bawang putih 0,07 persen, serta wortel, buncis, beras, pisang, minyak goreng, dan daging babi.
Menurut BPS, kenaikan harga pangan dipengaruhi dinamika pasokan dan distribusi, termasuk faktor cuaca yang memengaruhi produksi hortikultura di daerah pemasok. Peningkatan aktivitas masyarakat pada pertengahan tahun juga turut mendorong permintaan barang dan jasa, terutama sektor transportasi.
Secara nasional, inflasi menjadi indikator penting untuk mengukur perubahan harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Inflasi yang terkendali berperan menjaga stabilitas ekonomi, daya beli, serta iklim investasi dan konsumsi rumah tangga.
Di Bali, stabilitas harga memiliki peran strategis karena ekonomi daerah ini bertumpu pada sektor pariwisata dan jasa. Lonjakan kunjungan wisatawan pada musim liburan pertengahan tahun biasanya diikuti meningkatnya permintaan transportasi, akomodasi, dan konsumsi, yang dapat menekan harga jika tidak diimbangi pasokan memadai.
BPS menilai sinergi pemerintah daerah, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Bank Indonesia, dan pemangku kepentingan perlu terus diperkuat untuk menjaga stabilitas harga.
"Kami berharap sinergi pemerintah daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah terus diperkuat sehingga stabilitas pasokan dan distribusi barang dapat terjaga. Dengan demikian, laju inflasi tetap terkendali dan daya beli masyarakat dapat dipertahankan," ujar Kepala BPS Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan.
Ke depan, inflasi Bali dipengaruhi kondisi pasokan pangan, kebijakan harga energi, serta efektivitas pengendalian inflasi daerah. Stabilitas harga menjadi kunci menjaga pertumbuhan ekonomi Bali di tengah meningkatnya aktivitas pariwisata sepanjang 2026.










