TVRINews, Karangasem
Aktivitas penyeberangan dari Pelabuhan Padang Bai, Karangasem, menuju Pelabuhan Sampalan, Nusa Penida, Klungkung, terganggu setelah Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Nusa Jaya Abadi tidak beroperasi. Kondisi tersebut menyebabkan ratusan kendaraan harus mengantre hingga lebih dari dua hari untuk mendapatkan giliran menyeberang.
Antrean didominasi kendaraan angkutan barang seperti truk dan pikap, serta kendaraan pribadi. Kondisi ini terjadi karena layanan penyeberangan pada rute Padang Bai-Nusa Penida saat ini hanya mengandalkan satu kapal jenis Landing Craft Tank (LCT).
Berhentinya operasional KMP Nusa Jaya Abadi yang merupakan kapal roll-on/roll-off (RORO) milik Pemerintah Kabupaten Klungkung membuat kapasitas angkut pada rute tersebut berkurang signifikan. Akibatnya, kendaraan yang hendak menyeberang harus menunggu lebih lama di kawasan Pelabuhan Padang Bai.
Sejumlah sopir mengaku harus menghabiskan waktu berhari-hari untuk menunggu kepastian keberangkatan. Kondisi ini tidak hanya menambah waktu perjalanan, tetapi juga berpotensi meningkatkan biaya operasional angkutan karena kendaraan harus berada di area pelabuhan lebih lama.
Salah seorang sopir truk, Haji Mutaharudin, mengaku telah mengantre selama dua hari di Pelabuhan Padang Bai. Hingga Jumat siang, ia masih belum mendapatkan kepastian kapan kendaraannya dapat menyeberang menuju Nusa Penida.
“Sudah dua hari saya antre di sini, tetapi sampai sekarang belum ada kepastian kapan bisa menyeberang. Kami berharap ada kapal tambahan supaya antrean kendaraan bisa segera terurai,” ujar Haji Mutaharudin.
Lamanya waktu tunggu menjadi persoalan tersendiri bagi angkutan barang. Sopir tidak hanya harus menanggung biaya operasional kendaraan selama menunggu, tetapi juga menghadapi risiko keterlambatan pengiriman barang yang dibutuhkan masyarakat di Nusa Penida.
Distribusi kebutuhan pokok dan berbagai barang lainnya sangat bergantung pada kelancaran transportasi laut antara daratan Bali dan Nusa Penida. Ketika kapasitas penyeberangan menurun, antrean kendaraan semakin panjang dan waktu pengiriman barang menjadi tidak menentu.
Kondisi tersebut semakin kompleks karena aktivitas di Pelabuhan Padang Bai juga menghadapi gangguan akibat kerusakan pada salah satu dermaga. Kerusakan tersebut turut memengaruhi aktivitas bongkar muat kapal dan mempersempit ruang pelayanan di pelabuhan.
Dengan kondisi kapal RORO yang tidak beroperasi dan salah satu fasilitas dermaga mengalami kerusakan, para pengguna jasa penyeberangan berharap ada solusi sementara untuk mengurangi antrean kendaraan.
Para sopir meminta agar operasional KMP Nusa Jaya Abadi dapat segera kembali normal. Mereka juga berharap pemerintah maupun operator menyediakan kapal pengganti atau menambah armada yang melayani rute Padang Bai-Nusa Penida selama KMP Nusa Jaya Abadi belum dapat beroperasi.
Penambahan kapal dinilai penting untuk mengurai antrean, khususnya kendaraan angkutan barang yang membawa kebutuhan masyarakat. Jika kondisi ini berlangsung terlalu lama, keterlambatan distribusi dikhawatirkan berdampak terhadap kelancaran pasokan barang dan biaya logistik di Nusa Penida.
Rute Padang Bai-Nusa Penida memiliki peran penting dalam menghubungkan mobilitas masyarakat, wisatawan, serta distribusi logistik antara daratan Bali dan kepulauan Nusa Penida. Karena itu, gangguan operasional pada salah satu kapal utama dapat langsung berdampak terhadap aktivitas ekonomi dan kebutuhan masyarakat di wilayah kepulauan tersebut.
Para pengguna jasa berharap persoalan tersebut segera mendapatkan penanganan, baik melalui percepatan perbaikan kapal maupun optimalisasi armada lain yang memungkinkan melayani rute tersebut. Kepastian jadwal keberangkatan juga dinilai penting agar para sopir dapat mengatur perjalanan dan distribusi barang tanpa harus menunggu berhari-hari di pelabuhan.









