TVRINews, Denpasar
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mencatat puluhan kejadian bencana masih terjadi dalam sepekan terakhir. Kondisi cuaca yang dinilai masih sangat dinamis menyebabkan ancaman bencana tidak hanya berasal dari kekeringan dan kebakaran, tetapi juga bencana hidrometeorologi seperti banjir dan pohon tumbang yang masih melanda sejumlah wilayah.
Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Provinsi Bali, sebanyak 49 kejadian bencana tercatat terjadi selama sepekan terakhir.
Dari jumlah tersebut, 20 kejadian merupakan bencana yang dipicu musim kemarau, meliputi kebakaran hutan, kebakaran lahan, serta kebakaran permukiman. Sementara 29 kejadian lainnya merupakan bencana hidrometeorologi, seperti pohon tumbang, banjir, tanah longsor, dan dampak cuaca ekstrem lainnya.
Kepala UPTD Pengendalian Bencana Daerah Pusdalops BPBD Provinsi Bali, I Wayan Suryawan, mengatakan kondisi atmosfer di Bali saat ini masih dipengaruhi dinamika cuaca yang menyebabkan hujan masih terjadi di sejumlah wilayah, meskipun secara klimatologis sebagian besar daerah telah memasuki musim kemarau.

(Foto: Kepala UPTD Pengendalian Bencana Daerah Pusdalops BPBD Provinsi Bali, I Wayan Suryawan)
"Saat ini kita tidak bisa lagi melihat ancaman bencana hanya berdasarkan musim. Dalam satu waktu, Bali bisa menghadapi kebakaran akibat kemarau, tetapi di wilayah lain masih terjadi hujan lebat yang memicu banjir maupun pohon tumbang. Artinya, potensi bencana ganda harus menjadi perhatian bersama," ujar Suryawan, dikutip Rabu, 29 Juli 2026.
Menurutnya, Kabupaten Karangasem menjadi salah satu contoh daerah yang mengalami dua ancaman tersebut secara bersamaan. Di satu sisi, wilayah itu menghadapi kebakaran lahan akibat cuaca kering, sementara di sisi lain hujan dengan intensitas tinggi masih memicu banjir dan longsor di beberapa kawasan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perubahan cuaca yang terjadi saat ini semakin sulit diprediksi dan membutuhkan kesiapsiagaan yang lebih baik dari seluruh pihak.
BPBD menilai masyarakat perlu mengubah cara pandang terhadap mitigasi bencana. Jika sebelumnya kewaspadaan sering kali hanya difokuskan pada jenis bencana sesuai musim, kini masyarakat diimbau untuk selalu siap menghadapi berbagai potensi bencana yang dapat terjadi kapan saja.
Upaya mitigasi sederhana dapat dimulai dari lingkungan sekitar, seperti membersihkan saluran drainase dan sungai untuk mengurangi risiko banjir, memangkas pohon yang berpotensi tumbang, tidak membakar sampah maupun lahan saat cuaca panas guna mencegah kebakaran, serta memastikan instalasi listrik di rumah tetap aman.
Selain itu, masyarakat juga diminta rutin memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini yang dikeluarkan oleh BMKG maupun BPBD.
Informasi resmi tersebut dinilai penting sebagai dasar dalam mengambil langkah antisipasi, terutama bagi warga yang tinggal di daerah rawan longsor, bantaran sungai, kawasan hutan, maupun masyarakat yang beraktivitas di laut.
Data BPBD menunjukkan bahwa bencana hidrometeorologi masih mendominasi kejadian kebencanaan di Bali meskipun musim kemarau telah berlangsung.
Fenomena ini sejalan dengan kondisi atmosfer yang masih labil sehingga hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi secara lokal di sejumlah wilayah. Di sisi lain, cuaca panas dan kelembapan yang rendah juga meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
BPBD Provinsi Bali menegaskan bahwa kesiapsiagaan menjadi faktor utama dalam mengurangi risiko korban maupun kerugian akibat bencana.
Melalui peningkatan kewaspadaan masyarakat, koordinasi lintas instansi, serta penyebarluasan informasi kebencanaan secara cepat dan akurat, pemerintah berharap dampak dari potensi bencana ganda dapat diminimalkan sehingga keselamatan masyarakat tetap terjaga.









