TVRINews, Denpasar
Tingkat inflasi tahunan Bali pada Agustus 2026 mencapai 3,45 persen. Angka ini hanya terpaut 0,05 poin persentase dari batas atas sasaran inflasi sebesar 3,5 persen.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali juga menunjukkan inflasi Agustus menjadi yang tertinggi dalam empat tahun terakhir. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena tekanan harga terjadi di tengah meningkatnya aktivitas ekonomi dan pariwisata.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu sumber tekanan harga dengan tingkat inflasi sebesar 3,70 persen. Sementara itu, komoditas bensin memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan Bali, yakni 0,41 persen, disusul daging ayam ras sebesar 0,20 persen.
Tekanan harga juga berbeda antarwilayah. Kota Denpasar mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 3,64 persen, disusul Singaraja dan Kabupaten Tabanan yang juga berada di atas batas sasaran 3,5 persen.

Sementara Kabupaten Badung mencatat inflasi lebih rendah, yakni 2,88 persen. Perbedaan tersebut menunjukkan kondisi pasokan, pola konsumsi, dan aktivitas ekonomi turut memengaruhi perkembangan harga di masing-masing wilayah.
Kepala BPS Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, mengatakan pemerintah perlu mewaspadai tekanan harga, terutama pada komoditas pangan yang permintaannya meningkat seiring aktivitas pariwisata.
“Yang perlu dijaga adalah ketersediaan pangan, terutama komoditas yang permintaannya meningkat ketika kunjungan wisatawan naik. Pasokan yang cukup menjadi kunci menjaga stabilitas harga di Bali,” ujar Agus.
Menurut Agus, meningkatnya aktivitas pariwisata memang memberikan dampak positif terhadap perekonomian. Namun, kenaikan permintaan harus diimbangi dengan pasokan yang memadai agar tidak mendorong harga semakin tinggi.
Karena itu, pengendalian inflasi perlu dilakukan melalui pemantauan harga dan ketersediaan komoditas, sekaligus memastikan kelancaran distribusi dari daerah pemasok.
Dengan inflasi Bali yang sudah mendekati batas atas sasaran, pemerintah daerah bersama pemangku kepentingan diminta memperkuat langkah antisipasi. Stabilitas pasokan pangan menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendukung keberlanjutan aktivitas ekonomi dan pariwisata di Bali.










