TVRINews, Karangasem
Jembatan penghubung antara Banjar Kebung Kangin dan Banjar Kebung Kauh di Desa Telaga Tawang, Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem, ambruk setelah diterjang banjir yang terjadi berulang kali dalam beberapa waktu terakhir.
Putusnya jembatan sepanjang sekitar 30 meter tersebut mengakibatkan akses utama masyarakat menuju pusat desa dan kecamatan terputus total, sehingga aktivitas warga harus dialihkan melalui jalur alternatif yang lebih jauh.
Hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa maupun korban luka dalam peristiwa tersebut. Meski demikian, ambruknya jembatan berdampak signifikan terhadap mobilitas masyarakat, terutama untuk kegiatan pendidikan, perekonomian, pertanian, dan pelayanan publik.
Berdasarkan informasi di lapangan, konstruksi jembatan yang telah berusia tua diduga tidak lagi mampu menahan derasnya arus Sungai Kebung yang beberapa kali meluap akibat hujan berintensitas tinggi. Debit air yang terus meningkat menyebabkan pondasi jembatan terkikis sehingga akhirnya mengalami keruntuhan.
Sejumlah warga mengaku tidak mengetahui secara pasti kapan jembatan tersebut ambruk. Namun mereka menduga peristiwa itu terjadi pada Rabu malam sekitar pukul 23.00 WITA, bertepatan dengan hujan deras yang mengguyur wilayah Sidemen dan menyebabkan Sungai Kebung meluap. Saat kondisi cuaca membaik keesokan harinya, warga mendapati badan jembatan telah runtuh dan tidak lagi dapat dilalui kendaraan maupun pejalan kaki.
Menurut Wayan Gede Tagel, salah seorang warga setempat, keberadaan jembatan tersebut sangat penting karena menjadi akses utama masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
"Jembatan ini merupakan jalan tercepat bagi warga menuju pusat desa. Anak-anak setiap hari melintas untuk berangkat sekolah, begitu juga petani yang membawa hasil panen dan masyarakat yang bekerja. Sekarang kami harus memutar cukup jauh sehingga membutuhkan waktu dan biaya lebih besar," ujar Wayan Gede Tagel, Kamis, 30 Juli 2026.
Ia berharap pemerintah dapat segera melakukan pembangunan kembali jembatan tersebut mengingat dampaknya sangat dirasakan oleh masyarakat. Menurutnya, semakin lama akses terputus, semakin besar pula hambatan yang dihadapi warga, baik dari sisi ekonomi maupun pelayanan publik.
Putusnya jembatan membuat masyarakat kini harus menggunakan jalur alternatif dengan jarak tempuh yang jauh lebih panjang. Kondisi ini turut menyulitkan para pelajar yang setiap hari menuju sekolah, petani yang mengangkut hasil panen, pedagang yang mendistribusikan barang, hingga warga yang membutuhkan akses menuju fasilitas kesehatan dan pelayanan pemerintahan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karangasem bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) serta masyarakat setempat telah melakukan penanganan darurat dengan menutup sementara akses menuju jembatan. Petugas memasang garis pembatas, rambu peringatan, serta tanda larangan melintas guna mencegah warga maupun wisatawan nekat melewati lokasi yang berpotensi membahayakan keselamatan.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya longsoran susulan maupun runtuhnya bagian konstruksi yang masih tersisa. Mengingat kondisi tanah di sekitar bantaran sungai masih labil akibat tingginya intensitas hujan, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi seluruh rambu yang telah dipasang oleh petugas.
BPBD juga melakukan asesmen awal terhadap tingkat kerusakan sebagai dasar penyusunan langkah penanganan lebih lanjut. Hasil pendataan akan menjadi acuan bagi pemerintah daerah dalam menentukan kebutuhan pembangunan kembali jembatan, termasuk estimasi anggaran dan desain konstruksi yang lebih kuat menghadapi ancaman banjir. Wilayah Kecamatan Sidemen memang dikenal memiliki sejumlah sungai dengan karakter aliran deras yang berasal dari kawasan lereng Gunung Agung. Saat curah hujan tinggi, debit sungai dapat meningkat secara signifikan sehingga memperbesar risiko banjir, erosi tebing sungai, hingga kerusakan infrastruktur seperti jembatan dan jalan. Kondisi tersebut semakin berisiko apabila konstruksi infrastruktur telah berusia tua atau mengalami penurunan kualitas akibat faktor usia.
Dalam beberapa tahun terakhir, Kabupaten Karangasem berulang kali mengalami bencana hidrometeorologi berupa banjir, tanah longsor, serta kerusakan jalan dan jembatan saat musim hujan. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah untuk meningkatkan ketahanan infrastruktur melalui rehabilitasi dan pembangunan konstruksi yang lebih adaptif terhadap cuaca ekstrem. Warga Desa Telaga Tawang berharap pembangunan kembali jembatan dapat segera direalisasikan. Mereka menilai keberadaan jembatan bukan hanya sebagai penghubung dua banjar, tetapi juga menjadi urat nadi aktivitas ekonomi, pendidikan, pertanian, dan pelayanan masyarakat. Sementara menunggu pembangunan dilakukan, warga diimbau menggunakan jalur alternatif yang telah ditentukan serta menghindari melintas di sekitar lokasi jembatan demi keselamatan.









