TVRINews, Bali
Penguatan ekonomi kreatif dinilai menjadi salah satu langkah strategis bagi Bali untuk membangun sumber pertumbuhan ekonomi baru sekaligus meningkatkan ketahanan ekonomi daerah yang selama ini masih sangat bergantung pada sektor pariwisata. Indonesian Creative Cities Network (ICCN) hadir sebagai aggregator sekaligus melting point yang mempertemukan berbagai pelaku, komunitas, dan subsektor ekonomi kreatif yang tersebar di kabupaten dan kota di seluruh Bali.
Melalui jejaring tersebut, ICCN mendorong berbagai elemen ekonomi kreatif untuk tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan membangun kolaborasi dan ekosistem yang saling terhubung. Upaya ini dinilai penting mengingat karakter ekonomi kreatif Bali sangat beragam, mulai dari subsektor fesyen, kriya, kuliner, desain, seni pertunjukan, musik, hingga berbagai sektor kreatif yang berkembang seiring digitalisasi.
Meskipun memiliki kepentingan dan karakter usaha yang berbeda, seluruh pelaku ekonomi kreatif di Bali diarahkan untuk memiliki tujuan yang sama, yakni memperkuat sektor ekonomi kreatif sebagai salah satu pilar ekonomi baru Bali.
ICCN menilai pengembangan ekonomi kreatif tidak harus ditempatkan sebagai sektor yang berdiri terpisah dari pariwisata. Sebaliknya, kedua sektor tersebut dapat dikembangkan secara terintegrasi sehingga kekuatan pariwisata Bali sekaligus menjadi pasar bagi produk dan karya kreatif lokal.
Integrasi tersebut dapat dilakukan dengan menghubungkan pengalaman wisatawan dengan produk ekonomi kreatif, budaya, seni, desain, hingga berbagai karya lokal yang memiliki nilai tambah. Dengan demikian, aktivitas pariwisata tidak hanya menghasilkan pergerakan ekonomi melalui akomodasi, transportasi, maupun jasa wisata, tetapi juga memberikan dampak yang lebih luas kepada pelaku ekonomi kreatif di berbagai daerah.
Sekretaris ICCN Daerah Bali, I Made Moga Karisma, menekankan pentingnya konsistensi pelaku ekonomi kreatif dalam menjaga kualitas bahan baku sekaligus menghasilkan desain dan gagasan yang orisinal.

“Konsistensi terhadap kualitas dan orisinalitas menjadi hal yang sangat penting, karena dari situlah value atau nilai ekonomi sebuah produk dapat dibangun dan dikembangkan,” ujar I Made Moga Karisma dikutip Kamis, 8 Oktober 2026.
Menurutnya, produk ekonomi kreatif Bali harus memiliki identitas dan karakter yang kuat agar mampu memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Karena itu, pelaku usaha tidak hanya dituntut menghasilkan produk dalam jumlah besar, tetapi juga perlu memastikan kualitas serta keunikan produk tetap terjaga.
Orisinalitas menjadi salah satu persoalan penting dalam pengembangan ekonomi kreatif. Praktik plagiarisme maupun sekadar meniru produk yang sudah ada dinilai dapat menghambat lahirnya inovasi sekaligus menurunkan nilai ekonomi sebuah karya. Sebaliknya, pengembangan ide yang orisinal dapat menciptakan diferensiasi produk sekaligus memperkuat daya saing pelaku ekonomi kreatif Bali. Keunikan tersebut juga dapat menjadi bagian dari identitas yang membedakan produk lokal dengan produk dari daerah maupun negara lain.
Dalam konteks Bali, nilai budaya menjadi salah satu kekuatan yang dapat dikembangkan untuk menciptakan karakter produk yang kuat. Kekayaan tradisi, seni, pengetahuan lokal, serta identitas budaya Bali dapat diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk produk kreatif dengan pendekatan yang lebih inovatif dan sesuai dengan kebutuhan pasar. Namun, pengembangan ekonomi kreatif tidak cukup hanya mengandalkan kualitas produk dan kekayaan budaya. Pelaku ekonomi kreatif juga dituntut mampu mengikuti perubahan teknologi dan perilaku konsumen yang semakin cepat.

Digitalisasi menjadi salah satu faktor penting yang dapat menentukan kemampuan produk lokal untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Pemanfaatan teknologi memungkinkan pelaku usaha memasarkan produk tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pasar konvensional maupun lokasi fisik. Karena itu, kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi menjadi bagian penting dalam upaya menaikkan kelas ekonomi kreatif Bali. Pelaku usaha perlu memanfaatkan berbagai platform digital untuk memperluas pemasaran, membangun merek, memperkenalkan karya, sekaligus menjangkau konsumen di luar Bali dan pasar internasional.
Di sisi lain, pemanfaatan teknologi juga perlu diimbangi dengan kemampuan menjaga identitas produk. Digitalisasi tidak seharusnya membuat produk kreatif Bali kehilangan karakter budaya yang menjadi salah satu kekuatan utamanya.
Produk lokal Bali diharapkan mampu memadukan kualitas, inovasi, teknologi, serta nilai budaya sehingga memiliki daya saing yang lebih kuat. Kombinasi tersebut menjadi penting untuk membangun produk yang tidak hanya menarik secara komersial, tetapi juga memiliki nilai autentisitas
Penguatan ekosistem ekonomi kreatif melalui kolaborasi antarpelaku juga dinilai dapat membuka peluang baru bagi daerah. Ketika pelaku dari berbagai subsektor saling terhubung, potensi kolaborasi produk maupun layanan dapat berkembang dan menciptakan nilai ekonomi baru.
Dalam jangka panjang, integrasi antara ekonomi kreatif dan pariwisata diharapkan mampu menciptakan struktur ekonomi Bali yang lebih beragam. Ketergantungan terhadap satu sektor dapat dikurangi dengan memperkuat sektor-sektor lain yang memiliki potensi pertumbuhan dan mampu menciptakan lapangan usaha baru.
Model tersebut juga memungkinkan manfaat ekonomi dari aktivitas pariwisata menyebar lebih luas ke berbagai subsektor dan wilayah. Produk ekonomi kreatif yang dihasilkan masyarakat lokal dapat menjadi bagian dari rantai nilai pariwisata sekaligus memperpanjang manfaat ekonomi yang dihasilkan dari kunjungan wisatawan.
ICCN mendorong agar pengembangan ekonomi kreatif tidak berhenti pada kegiatan promosi atau penciptaan produk semata. Diperlukan ekosistem yang mendukung pelaku usaha dari sisi inovasi, kualitas, pemasaran, teknologi, perlindungan karya, hingga akses terhadap pasar.
Dengan membangun ekosistem yang terintegrasi, ekonomi kreatif diharapkan mampu berkembang dari sektor pendukung menjadi salah satu kekuatan ekonomi Bali. Kolaborasi dengan pariwisata menjadi salah satu strategi untuk memperbesar pasar, sementara penguatan kualitas, orisinalitas, inovasi, dan digitalisasi menjadi modal untuk meningkatkan daya saing.
Pada akhirnya, penguatan ekonomi kreatif di Bali diharapkan tidak hanya menghasilkan lebih banyak produk lokal, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru yang lebih berkelanjutan dan resilien. Strategi tersebut menjadi semakin penting bagi Bali untuk menghadapi perubahan tren wisatawan, perkembangan teknologi, serta berbagai dinamika ekonomi global di masa mendatang.










