TVRINews, Denpasar
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong peningkatan daya saing industri kecil dan menengah (IKM) sektor fesyen, kriya, dan aneka agar mampu memperluas jangkauan pemasaran hingga ke pasar internasional. Produk yang mengedepankan kreativitas, kualitas, serta penggunaan bahan ramah lingkungan dinilai memiliki peluang untuk memenuhi permintaan pasar global yang semakin memperhatikan aspek keberlanjutan.
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengatakan, produk fesyen dan kriya berbasis ramah lingkungan menjadi salah satu tren yang diminati pasar internasional. Potensi tersebut perlu dimanfaatkan oleh pelaku IKM melalui pengembangan desain, peningkatan kualitas produk, serta strategi pemasaran yang sesuai dengan kebutuhan konsumen global.
Hal tersebut disampaikan Sarmuji saat melakukan kunjungan kerja ke Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kerajinan (BPIFK) di Bali.
Dalam kunjungan tersebut, ia meninjau berbagai program pemberdayaan yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan dan daya saing pelaku IKM, mulai dari pelatihan, pendampingan berbasis komunitas, hingga fasilitasi restrukturisasi mesin dan peralatan produksi.
Menurut Sarmuji, produk yang dihasilkan pelaku IKM memiliki potensi untuk bersaing karena menawarkan desain yang menarik sekaligus karakter produk yang khas. Potensi tersebut dapat diperkuat dengan mengintegrasikan nilai keberlanjutan lingkungan ke dalam proses produksi maupun konsep produk yang ditawarkan kepada konsumen.
Salah satu contoh yang menjadi perhatian ialah kreasi tas berbahan baku goni. Penggunaan bahan tersebut menunjukkan bahwa material yang relatif sederhana dapat dikembangkan menjadi produk fesyen yang memiliki nilai tambah melalui kreativitas desain dan pengolahan. Dengan pengembangan yang tepat, produk berbahan alternatif seperti ini berpeluang menjangkau konsumen yang mempertimbangkan aspek lingkungan dalam memilih produk.
Meski demikian, kemampuan menghasilkan produk yang menarik belum otomatis menjamin keberhasilan memasuki pasar ekspor. Pelaku IKM masih perlu memperkuat akses pemasaran, membangun jaringan distribusi, serta mengenali karakteristik dan kebutuhan pasar yang dituju. Karena itu, upaya meningkatkan daya saing tidak hanya berfokus pada kemampuan produksi, tetapi juga pada strategi untuk mempertemukan produk lokal dengan calon pembeli di dalam maupun luar negeri.
“Ini menurut saya produk-produknya sangat fashionable dan kekinian. Apalagi, dipadukan dengan isu lingkungan. Sungguh sesuatu yang saat ini menjadi perhatian. Terutama bagi masyarakat yang peduli dengan isu keberlanjutan,” ujarnya, Senin, 26 Oktober 2026.
Sarmuji menilai, jaringan komunitas yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dapat dimanfaatkan sebagai salah satu jalur untuk memperkenalkan produk fesyen dan kriya ramah lingkungan. Selain itu, platform digital dapat membantu pelaku usaha memperluas jangkauan promosi tanpa sepenuhnya bergantung pada pemasaran konvensional.
Pemanfaatan kanal digital juga membuka peluang bagi IKM untuk menampilkan karakter produk, menjangkau konsumen dari berbagai wilayah, serta membangun pengenalan merek di pasar yang lebih luas. Namun, perluasan pemasaran tersebut tetap perlu didukung oleh kualitas produk yang konsisten, desain yang sesuai dengan kebutuhan konsumen, dan kesiapan pelaku usaha memenuhi permintaan pasar.
Di sisi lain, program pemberdayaan melalui BPIFK diharapkan dapat membantu pelaku IKM meningkatkan kapasitas usaha secara bertahap. Pelatihan dan pendampingan diperlukan agar pelaku usaha mampu mengembangkan produk, memperbaiki proses produksi, serta menyesuaikan hasil kerajinan dengan standar dan preferensi konsumen yang dituju.
Fasilitasi restrukturisasi mesin dan peralatan produksi juga menjadi bagian dari upaya mendukung penguatan kapasitas industri. Dukungan tersebut dapat membantu pelaku usaha meningkatkan efisiensi dan kemampuan produksi, sehingga pengembangan pasar dapat diimbangi dengan kesiapan memenuhi pesanan. Bagi IKM yang menargetkan ekspor, kesiapan produksi menjadi salah satu aspek penting agar peningkatan permintaan tidak mengorbankan kualitas produk.
Selain memperluas pemasaran melalui komunitas dan platform digital, Kemenperin melihat sektor pariwisata di Bali sebagai peluang untuk memperkenalkan produk lokal kepada pasar yang lebih luas. Tingginya aktivitas pariwisata dapat dimanfaatkan sebagai jalur promosi produk fesyen dan kriya, termasuk dengan mengembangkan produk sebagai suvenir unggulan yang memiliki identitas dan karakter lokal.
Sinergi dengan sektor pariwisata diharapkan dapat mempertemukan pelaku IKM dengan konsumen, pelaku usaha pariwisata, serta jaringan pemasaran yang relevan. Produk lokal tidak hanya diposisikan sebagai barang kerajinan, tetapi juga sebagai produk bernilai tambah yang dapat merepresentasikan kreativitas dan potensi industri daerah.
Meski demikian, pengembangan pasar melalui sektor pariwisata perlu berjalan beriringan dengan upaya memperluas akses ke pasar internasional. Dengan demikian, pemasaran produk tidak hanya bergantung pada pembelian wisatawan selama berada di Bali, tetapi juga berpeluang berkembang melalui jaringan perdagangan dan distribusi di luar negeri.
Untuk mendukung langkah tersebut, pemerintah akan terus mendorong keterhubungan pelaku IKM dengan berbagai pemangku kepentingan. Salah satu jalur yang akan dimanfaatkan ialah jaringan International Trade Promotion Center (ITPC) di luar negeri, yang dapat menjadi bagian dari upaya memperkenalkan produk Indonesia kepada pasar internasional.
Keterhubungan dengan jaringan promosi perdagangan luar negeri diharapkan membuka kesempatan bagi pelaku IKM untuk menjajaki pasar potensial, memperoleh informasi mengenai kebutuhan konsumen, serta memperluas jejaring pemasaran. Upaya ini menjadi penting agar produk yang telah dikembangkan melalui program pemberdayaan memiliki jalur pemasaran yang lebih jelas.
Dengan menggabungkan peningkatan kualitas produk, penguatan kapasitas produksi, pemanfaatan pemasaran digital, serta sinergi dengan sektor pariwisata dan jaringan promosi perdagangan luar negeri, IKM fesyen dan kriya diharapkan dapat meningkatkan daya saingnya.
Tantangan selanjutnya ialah memastikan potensi produk ramah lingkungan tersebut dapat diterjemahkan menjadi akses pasar yang berkelanjutan dan peluang usaha yang lebih luas bagi pelaku industri kecil dan menengah.










