TVRINews, Bali
Keterlambatan distribusi bahan bakar minyak (BBM) menyebabkan antrean panjang kendaraan di salah satu stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Denpasar, Bali, Selasa, 13 Oktober 2026. Antrean bahkan telah terbentuk sejak pukul 05.00 WITA, sebelum SPBU mulai beroperasi, dan memanjang hingga keluar area pengisian.
Pengawas SPBU COCO 51.801.30, I Gede Yuda Gautama, menyampaikan bahwa keterlambatan distribusi berdampak pada ketersediaan sejumlah jenis BBM di SPBU tersebut. Hingga Selasa pagi,13 Oktober 2926, Pertalite masih tersedia dan dapat dilayani kepada pengendara. Sementara itu, stok Pertamax dilaporkan telah kosong sejak pagi, sehingga masyarakat yang membutuhkan jenis bahan bakar tersebut tidak dapat melakukan pengisian di lokasi.
Kondisi ini membuat ketersediaan BBM menjadi perhatian pengendara yang datang untuk mengisi bahan bakar. Pengendara yang hendak membeli Pertamax perlu mempertimbangkan ketersediaan stok sebelum mendatangi SPBU, sedangkan pengguna Pertalite masih dapat mengakses layanan selama persediaan tersedia.
Pihak SPBU memastikan pasokan BBM dijadwalkan tiba pada Selasa siang, 13 Oktober 2026. Kedatangan pasokan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus memulihkan pelayanan pengisian bahan bakar yang terdampak keterlambatan distribusi.
“Pasokan BBM dijadwalkan datang hari ini, Selasa siang. Masyarakat diharapkan tetap tenang dan tertib selama mengantre,” ujar I Gede Yuda Gautama,
Meski demikian, kepastian kedatangan pasokan menjadi faktor penting dalam penanganan antrean. Selama distribusi belum tiba dan stok belum kembali tersedia, pengendara masih berpotensi menghadapi waktu tunggu lebih lama, terutama apabila jumlah kendaraan yang datang terus meningkat.
Distribusi BBM merupakan bagian penting dalam menjaga keberlangsungan pelayanan di SPBU. Keterlambatan pengiriman dapat menyebabkan persediaan tidak mencukupi kebutuhan pada waktu tertentu, terutama ketika masyarakat membutuhkan bahan bakar secara bersamaan pada pagi hari.
Dalam situasi di Denpasar ini, antrean yang telah terbentuk sejak pukul 05.00 WITA memperlihatkan dampak langsung keterlambatan distribusi terhadap pelayanan kepada konsumen. Pengendara yang biasanya dapat mengisi BBM dalam waktu singkat harus menunggu giliran lebih lama sebelum melanjutkan perjalanan.
Bagi masyarakat yang menggunakan kendaraan untuk bekerja atau mencari penghasilan, waktu tunggu tersebut berpotensi mengubah jadwal kegiatan harian. Pengendara sepeda motor yang bekerja di sektor jasa, misalnya, membutuhkan kepastian ketersediaan BBM agar dapat menjalankan aktivitasnya. Hal serupa berlaku bagi pengguna mobil yang harus melakukan perjalanan pada pagi hari.
Di sisi lain, antrean kendaraan yang memanjang hingga keluar area SPBU juga berpotensi memengaruhi kelancaran lalu lintas di sekitar lokasi. Karena itu, penanganan antrean tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan bakar, tetapi juga ketertiban pengendara dalam menunggu giliran pengisian.
Di tengah keterbatasan stok, masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak melakukan pembelian secara berlebihan. Pengendara juga diharapkan bersabar selama menunggu kedatangan pasokan serta mengikuti arahan petugas di lapangan.
Pembelian BBM sesuai kebutuhan menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan masyarakat untuk menjaga ketertiban selama kondisi pasokan belum sepenuhnya normal. Pengendara juga diimbau tidak menyerobot antrean atau memaksakan kendaraan masuk ke area SPBU apabila kondisi sudah padat.
Selain itu, antrean kendaraan perlu diatur agar tidak menghalangi akses jalan di sekitar SPBU. Penggunaan badan jalan secara berlebihan untuk menunggu giliran dapat mengganggu pergerakan kendaraan lain dan meningkatkan risiko kemacetan, terutama pada jam-jam sibuk. Kedisiplinan masyarakat selama mengantre menjadi penting agar pelayanan pengisian tetap berjalan tertib. Pengendara diharapkan memberikan ruang bagi kendaraan lain untuk melintas dan mengikuti petunjuk petugas apabila terdapat pengaturan antrean di sekitar lokasi.










