TVRINews, Denpasar
Pesta Kesenian Bali (PKB) 2026 tidak hanya menjadi ruang pelestarian seni, budaya, dan tradisi Bali, tetapi juga menunjukkan komitmen terhadap pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Melalui penerapan sistem pengelolaan sampah dari sumber, volume sampah yang dihasilkan selama pelaksanaan PKB berhasil ditekan, meskipun ribuan pengunjung memadati kawasan acara setiap harinya.
Pengelolaan sampah menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian khusus sejak awal penyelenggaraan PKB tahun ini. Berbagai upaya dilakukan untuk memastikan kegiatan seni dan budaya terbesar di Bali tersebut dapat berlangsung selaras dengan prinsip kebersihan dan keberlanjutan lingkungan.

Berbeda dengan pola pengelolaan sampah konvensional yang mengandalkan petugas kebersihan untuk mengumpulkan dan memilah sampah setelah dihasilkan, PKB tahun ini menerapkan pendekatan pengelolaan sampah dari sumber.
Melalui sistem tersebut, setiap pihak yang terlibat dalam kegiatan, mulai dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), seniman, peserta pementasan, hingga pengunjung, didorong untuk bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan.
Penerapan sistem ini dilakukan dengan mengajak seluruh pelaku kegiatan untuk memilah sampah sejak awal sesuai jenisnya. Sampah organik, anorganik, dan sampah yang masih memiliki nilai ekonomi atau dapat didaur ulang dipisahkan sebelum masuk ke tahap pengelolaan berikutnya. Langkah tersebut dinilai mampu meningkatkan efektivitas pengolahan sampah sekaligus mengurangi volume sampah residu yang harus dibuang ke tempat pemrosesan akhir.
Kepala UPTD Taman Budaya Provinsi Bali, I Wayan Mardika Bhuwana, mengatakan keberhasilan menjaga kebersihan kawasan PKB tidak terlepas dari keterlibatan seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan acara. Menurutnya, pengelolaan sampah yang baik tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau petugas kebersihan, tetapi membutuhkan partisipasi aktif seluruh elemen yang berada di kawasan PKB.
“Semua pelaku kuliner dan UMKM menyiapkan dan mengumpulkan sampahnya sendiri. Mereka mengumpulkan sampah-sampah mereka dan memilah sesuai dengan sumbernya, kemudian membawa pulang juga sampah mereka sendiri,” ujar I Wayan Mardika, dikutip Jumat, 26 Juni 2026.
Pemerintah Provinsi Bali melalui UPTD Taman Budaya Provinsi Bali juga menggandeng sejumlah pihak untuk mendukung pengelolaan sampah selama pelaksanaan PKB. Kolaborasi tersebut dilakukan guna memastikan proses pemilahan, pengumpulan, hingga penanganan sampah dapat berjalan secara optimal selama berlangsungnya rangkaian kegiatan.
Penerapan pengelolaan sampah dari sumber sejalan dengan berbagai kebijakan Pemerintah Provinsi Bali yang mendorong pengurangan sampah, terutama sampah plastik sekali pakai. Dalam beberapa tahun terakhir, Bali terus mengembangkan berbagai program pengelolaan sampah berbasis sumber sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap tempat pembuangan akhir sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan.
Langkah tersebut menjadi semakin relevan di tengah tantangan pengelolaan sampah yang dihadapi Bali. Produksi sampah yang tinggi, terutama di kawasan perkotaan dan pusat aktivitas masyarakat, menuntut adanya perubahan pola pengelolaan yang lebih berkelanjutan. Karena itu, pelaksanaan PKB dinilai dapat menjadi contoh penerapan pengelolaan sampah yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan dalam sebuah kegiatan berskala besar.
Selain mendorong pemilahan sampah sejak sumbernya, panitia juga menyediakan fasilitas pendukung berupa tempat sampah yang ditempatkan di berbagai titik strategis di kawasan PKB. Ketersediaan sarana tersebut diharapkan dapat memudahkan masyarakat membuang sampah sesuai jenisnya sekaligus mencegah terjadinya pembuangan sampah sembarangan.
Upaya tersebut turut didukung dengan edukasi dan sosialisasi kepada peserta maupun pengunjung mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan selama berada di kawasan acara.
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat, pengelolaan sampah tidak lagi hanya berfokus pada penanganan akhir, tetapi dimulai dari perubahan perilaku individu dalam mengelola sampah yang dihasilkan.
Keberhasilan menjaga kebersihan kawasan PKB menjadi salah satu indikator bahwa penyelenggaraan kegiatan seni dan budaya berskala besar dapat berjalan seiring dengan upaya pelestarian lingkungan.
Selain menghadirkan berbagai pertunjukan seni, pameran, dan aktivitas budaya, PKB juga menjadi ruang edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya penerapan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.
Melalui penerapan pengelolaan sampah dari sumber, Pemerintah Provinsi Bali berharap kesadaran untuk memilah dan mengelola sampah dapat terus tumbuh, tidak hanya selama pelaksanaan PKB tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, upaya mewujudkan Bali yang bersih, lestari, dan berkelanjutan dapat dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh lapisan masyarakat.










