TVRINews, Gianyar
African Swine Fever kembali ditemukan di Kabupaten Gianyar, Bali, dan mulai menimbulkan keresahan di kalangan peternak babi. Penyakit virus yang menyerang ternak tersebut dilaporkan menyebabkan kematian puluhan ekor babi dalam beberapa pekan terakhir.
Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar mencatat sedikitnya enam ekor babi di Desa Temesi, Kecamatan Gianyar, terkonfirmasi positif ASF setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium. Kasus ini bermula dari laporan warga terkait kematian mendadak salah satu ternak.
Setelah dilakukan penelusuran, petugas memeriksa sekitar 30 ekor babi di lokasi tersebut, dan enam di antaranya dinyatakan positif terinfeksi.
Kondisi ini memicu kekhawatiran peternak, mengingat wabah serupa pernah menimbulkan kerugian besar di Bali beberapa tahun sebelumnya.
Selain di Temesi, dugaan penyebaran ASF juga ditemukan di Banjar Susut, Desa Buahan, Kecamatan Payangan. Seorang peternak, I Wayan Sudiantara, melaporkan kematian 17 anak babi dan 10 indukan dalam waktu singkat.
Pelaksana Tugas Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian Gianyar, Made Dwitemaja, membenarkan kembali munculnya kasus ASF di wilayah tersebut.
“Kami sudah melakukan pembinaan kepada peternak di seluruh wilayah, termasuk langkah pencegahan melalui vaksinasi dan pengawasan kesehatan ternak agar penyebaran tidak semakin meluas,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ASF merupakan penyakit virus dengan tingkat kematian tinggi pada babi, namun tidak menular kepada manusia. Meski demikian, dampaknya dapat menyebabkan kerugian ekonomi besar akibat kematian ternak secara massal.
Saat ini, pengawasan lalu lintas ternak diperketat, termasuk pemantauan kesehatan hewan di tingkat peternak rakyat maupun peternakan skala besar. Peternak juga diminta membatasi akses keluar masuk kandang.
Petugas turut mengimbau agar kandang rutin dibersihkan, dilakukan penyemprotan disinfektan, serta membatasi orang yang keluar masuk area peternakan.
Peternak juga diminta segera melapor jika menemukan gejala mencurigakan seperti demam tinggi, lemas, kehilangan nafsu makan, hingga kematian mendadak pada ternak.
ASF sebelumnya juga pernah merebak di Bali pada 2020 dan menyebabkan kerugian besar di sektor peternakan babi. Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah kembali meningkatkan kewaspadaan untuk mencegah penyebaran lebih luas.










