TVRINews, Denpasar
Piala Dunia FIFA 2026 diperkirakan mendorong perputaran ekonomi nasional hingga lebih dari Rp5 triliun. Nilai tersebut berasal dari berbagai aktivitas yang berkaitan dengan penyelenggaraan turnamen, baik melalui siaran maupun kegiatan luar jaringan penyiaran (off-air), berdasarkan kajian Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.
Dampak ekonomi tersebut dirasakan berbagai sektor, mulai dari penyiaran, perdagangan, jasa, pariwisata, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Aktivitas ekonomi berlangsung sejak masa persiapan hingga penyelenggaraan turnamen.
Kajian Kadin mencatat sejumlah sektor yang menikmati peningkatan aktivitas, di antaranya belanja iklan, penyiaran, kerja sama sponsorship, promosi produk, penjualan televisi dan perangkat elektronik, penjualan merchandise resmi maupun produk kreatif lokal, sektor hotel, restoran, dan kafe (HOREKA), serta kegiatan nonton bareng (nobar) dan festival rakyat yang melibatkan UMKM.
Ketua Umum Kadin Bali, I Made Ariandi, mengatakan Bali menjadi salah satu daerah yang merasakan dampak ekonomi dari penyelenggaraan Piala Dunia FIFA 2026. Menurutnya, kegiatan nonton bareng di Pulau Dewata berhasil menggerakkan roda perekonomian masyarakat.
Ia menyebut, perputaran ekonomi dari kegiatan nobar di Bali mencapai lebih dari Rp1 miliar. Nilai tersebut berasal dari transaksi makanan dan minuman, penjualan produk UMKM, jasa pendukung acara, hingga aktivitas perdagangan lainnya.
Made Ariandi menjelaskan keterlibatan UMKM dalam kegiatan nobar turut membuka peluang pemasaran produk lokal sekaligus meningkatkan pendapatan pelaku usaha.
"Manfaat langsungnya sangat nyata. Dengan nobar, melibatkan bisa ratusan pelaku UMKM sekali Nobar. Pendapatannya minimal satu setengah juta rupiah. Ini berapa kali nobar, tentunya nilai transaksi seluruhnya tinggi," ujarnya, Jumat, 17 Juli 2026.
Menurutnya, keberhasilan penyelenggaraan nobar di Bali merupakan hasil kolaborasi Kadin Bali bersama Kodam IX/Udayana, Polda Bali, pemerintah daerah, pelaku usaha, lembaga penyiaran publik, dan masyarakat. Kegiatan dipusatkan di Lapangan Puputan Badung, Denpasar.
Ia menilai sinergi lintas sektor penting agar kegiatan berskala besar tidak hanya berjalan aman dan tertib, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas. Dunia usaha juga didorong berpartisipasi melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) agar semakin banyak UMKM, komunitas kreatif, dan pelaku ekonomi lokal yang terlibat.
Kadin berharap pengalaman selama Piala Dunia FIFA 2026 dapat menjadi model pemanfaatan momentum ajang olahraga internasional untuk menggerakkan ekonomi daerah sekaligus memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional.










