TVRINews, Denpasar
Pemerintah Provinsi Bali bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali memperkuat koordinasi lintas sektor untuk mengantisipasi potensi ancaman bencana selama musim kemarau. Langkah mitigasi difokuskan pada pemetaan risiko kekeringan, krisis air bersih, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta ancaman kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah.
Gubernur Bali Wayan Koster menyampaikan bahwa secara keseluruhan tingkat kerawanan bencana di wilayahnya masih terpantau aman berkat kesiapan sarana, armada, dan personel di lapangan.

“Sejauh ini seluruh potensi risiko bencana masih dalam kondisi terkendali,” kata Gubernur Bali Wayan Koster.
Kendati demikian, Pemprov Bali tetap mengantisipasi dampak lanjutan kemarau yang berpotensi menurunkan debit air tanah serta ketersediaan air permukaan. Ketersediaan air bersih menjadi perhatian khusus mengingat tingginya kebutuhan domestik masyarakat, irigasi sektor pertanian, hingga operasional industri pariwisata.

Selain ancaman krisis air, tingkat kerawanan karhutla dan kebakaran TPA turut ditingkatkan status kewaspadaannya. Kombinasi suhu tinggi, kelembapan rendah, dan tumpukan sampah yang menghasilkan gas metan di TPA dinilai menjadi titik rawan yang membutuhkan pemantauan ekstra.
Sebagai langkah antisipasi krisis air, BPBD Bali menyiagakan armada tangki air bersih untuk disalurkan ke kawasan terdampak, didukung operasional posko siaga 24 jam. Pada sektor pertanian, pemerintah mendorong penerapan sistem irigasi bergilir dan optimalisasi pemanfaatan embung guna mengefisiensikan pasokan air.
Guna menekan risiko kebakaran, Pemprov Bali mengimbau masyarakat dan pelaku usaha untuk melakukan penghematan air serta tidak membakar sampah maupun membuang puntung rokok sembarangan di area vegetasi kering. Patroli berkala di titik-titik rawan terus ditingkatkan agar potensi munculnya api dapat ditangani secara cepat dan terukur.








