TVRINews, Denpasar
Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH) Diaz Hendropriyono mengimbau seluruh pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah selama musim kemarau.
Peningkatan suhu akibat fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga September 2026 dinilai dapat meningkatkan risiko kebakaran pada timbunan sampah di berbagai daerah.
Menurut Diaz, kebakaran di TPA tidak hanya menyebabkan pencemaran udara, tetapi juga berpotensi memicu ledakan akibat akumulasi gas metana yang dihasilkan dari proses pembusukan sampah organik.
Kondisi tersebut membuat proses pemadaman menjadi lebih sulit dan tidak dapat dilakukan dengan metode konvensional.
"Kami di Kementerian Lingkungan Hidup sudah mengantisipasi kebakaran TPA karena dampak El Nino diperkirakan semakin meningkat hingga September. Yang berpotensi terbakar saat ini bukan hanya lahan, tetapi juga TPA," ujar Diaz.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) telah menerbitkan surat edaran kepada seluruh kepala daerah pada 1 Juli 2026.
Surat edaran itu memuat sejumlah langkah mitigasi, di antaranya meningkatkan pengawasan di kawasan TPA serta melakukan pembasahan timbunan sampah secara berkala guna menjaga kelembapan dan mencegah munculnya titik api.
Selain itu, KLH juga membentuk satuan tugas lintas kementerian yang bertugas memantau dan mendeteksi titik panas di TPA di seluruh Indonesia.
Satgas tersebut akan memetakan lokasi dengan tingkat kerawanan tinggi agar langkah pencegahan dapat dilakukan lebih awal sebelum kebakaran meluas.
Diaz berharap berbagai langkah mitigasi tersebut mampu mencegah terulangnya kebakaran TPA yang beberapa kali terjadi pada periode 2023 hingga 2025.
Menurutnya, insiden tersebut tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat akibat asap pekat, tetapi juga berdampak terhadap kesehatan, lingkungan, dan operasional pengelolaan sampah.
Ia menegaskan, upaya pencegahan harus dimulai dari pengelolaan sampah di tingkat hulu. Penguatan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R), peningkatan pemilahan sampah dari sumber, serta pengurangan volume sampah yang dikirim ke TPA menjadi langkah strategis untuk menekan risiko kebakaran.
Selama musim kemarau, timbunan sampah yang didominasi material organik cenderung mengalami peningkatan suhu akibat proses dekomposisi. Kondisi tersebut dapat memicu terbentuknya gas metana yang mudah terbakar.
Apabila gas terakumulasi di dalam timbunan sampah dan bertemu dengan sumber panas, kebakaran bahkan ledakan dapat terjadi, terutama di TPA yang masih menerapkan sistem open dumping atau penumpukan sampah secara terbuka.
Pemerintah terus mendorong transformasi sistem pengelolaan sampah nasional melalui pengurangan sampah dari sumber, optimalisasi TPS3R, peningkatan fasilitas pengolahan sampah, hingga pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di berbagai daerah.
Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap TPA sekaligus meningkatkan keselamatan pengelolaan sampah dan menekan risiko kebakaran selama musim kemarau.










