TVRINews, Klungkung
Pelinggih Meru Tumpang Tujuh di Pura Puseh Desa Adat Batu Madeg, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali, terbakar pada Kamis sore. Api diduga berasal dari semak belukar di sekitar areal pura yang kemudian terbawa angin kencang hingga menyambar atap meru yang terbuat dari ijuk.
Api pertama kali terlihat di bagian atas Meru Tumpang Tujuh. Kobaran dengan cepat membakar bagian atap berbahan ijuk.
Mengetahui kejadian tersebut, warga berdatangan ke areal pura untuk berupaya memadamkan api sekaligus mencegah kobaran merembet ke pelinggih lainnya.
Karena api semakin membesar di bagian atas bangunan, warga akhirnya mengambil langkah untuk merobohkan Meru Tumpang Tujuh yang terbakar ke luar areal pura. Tindakan tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko api merembet ke bangunan suci lainnya.
Berdasarkan informasi awal, kebakaran diduga dipicu api dari semak belukar di sekitar Pura Puseh. Kobaran api kemudian terbawa angin kencang hingga menyambar bagian atap Meru Tumpang Tujuh.
Kondisi cuaca yang panas dan kering selama musim kemarau juga diduga menjadi salah satu faktor yang mempercepat penyebaran api. Namun, penyebab pasti kebakaran masih dalam penanganan dan pemeriksaan pihak terkait.
Pasca kejadian, jajaran Polsek Nusa Penida melakukan pemeriksaan di lokasi untuk mengetahui kronologi serta penyebab kebakaran secara lebih lanjut.
Kepolisian juga mengimbau masyarakat, khususnya para petani, tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan secara sembarangan. Pembakaran di lahan terbuka berpotensi memicu kebakaran, terutama saat cuaca panas, kering, dan disertai angin kencang.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten
Klungkung, I Putu Widiada, turut mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Masyarakat diminta lebih berhati-hati saat melakukan aktivitas yang menggunakan api, khususnya di lahan pertanian yang berdekatan dengan kawasan pura maupun permukiman.
“Karena ini musim kemarau, kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat melakukan aktivitas di lahan pertanian yang berdekatan dengan pura maupun permukiman,” ujar I Putu Widiada.
Widiada menekankan, kondisi lahan yang kering membuat api lebih cepat menyebar. Apalagi jika kebakaran terjadi saat angin bertiup kencang, kobaran api dapat dengan mudah berpindah dari satu titik ke titik lainnya dan mengancam bangunan di sekitar lokasi.
Kebakaran tersebut mengakibatkan kerusakan pada Pelinggih Meru Tumpang Tujuh. Pengempon pura diperkirakan mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah akibat peristiwa tersebut.
Warga berharap kesiapsiagaan dan respons petugas pemadam kebakaran di wilayah Nusa Penida terus ditingkatkan. Respons cepat dinilai penting untuk mencegah kebakaran meluas, terutama ketika api muncul di kawasan yang memiliki bangunan atau pelinggih dengan material mudah terbakar.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran selama musim kemarau. Setiap aktivitas yang melibatkan api perlu dilakukan secara aman dan tidak meninggalkan sumber api yang berpotensi memicu kebakaran, terutama di sekitar lahan kering, kawasan pura, dan permukiman.










