TVRINews, Karangasem
Proyek konservasi Pantai Candidasa di Kabupaten Karangasem, Bali, hingga kini masih terus berlangsung. Sejumlah alat berat masih beroperasi di kawasan pesisir untuk menuntaskan pembangunan beach revetment atau struktur pelindung pantai di zona satu proyek tersebut.
Pembangunan beach revetment menjadi salah satu tahapan penting dalam proyek konservasi Pantai Candidasa. Infrastruktur ini berfungsi sebagai pelindung lereng pantai untuk menahan abrasi akibat hantaman gelombang laut dan arus air yang selama puluhan tahun menggerus garis pantai di kawasan Candidasa.
Secara teknis, revetment dibangun menggunakan susunan batu dan struktur pelindung di sepanjang bibir pantai guna meredam energi gelombang. Kehadiran struktur tersebut diharapkan mampu menjaga kestabilan daratan di belakangnya, termasuk kawasan permukiman, jalan, hingga deretan hotel dan usaha pariwisata di sepanjang pesisir.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Karangasem, I Wayan Kariasa, mengapresiasi progres pembangunan proyek konservasi Pantai Candidasa yang memiliki panjang penanganan sekitar 5,5 kilometer dengan nilai anggaran mencapai Rp518 miliar tersebut.
Menurutnya, saat ini zona inti revetment di zona satu telah terkoneksi. Jalur tersebut nantinya akan dimanfaatkan sebagai akses kendaraan proyek, terutama truk pengangkut material urukan pasir putih yang akan digunakan dalam proses penambahan pasir pantai atau beach nourishment.
“Perkembangannya cukup baik. Zona satu sudah mulai terkoneksi sehingga akses kendaraan proyek nantinya lebih tertata. Ini juga membantu mengurangi gangguan di area wisata,” ujar I Wayan Kariasa, dikutip Jumat, 22 Mei 2026.
Meski demikian, proyek yang berada tepat di depan kawasan hotel dan akomodasi wisata di Candidasa tersebut sempat menimbulkan keluhan dari sejumlah wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara yang menginap di sekitar lokasi proyek.
Aktivitas alat berat, suara kendaraan proyek, hingga mobilisasi material dinilai cukup mengganggu kenyamanan wisatawan. Namun pelaku pariwisata setempat menilai kondisi tersebut masih dapat dimaklumi mengingat proyek ini merupakan investasi jangka panjang untuk penyelamatan kawasan pesisir Candidasa.
PHRI Karangasem menyebut, setelah zona satu mulai tersambung, intensitas kebisingan alat berat secara perlahan mulai berkurang dibandingkan pada tahap awal pengerjaan.

(Foto: Proyek Konservasi Pantai Candidasa di Bali)
Proyek konservasi Pantai Candidasa sendiri merupakan salah satu proyek strategis penanganan abrasi di Bali Timur. Selama bertahun-tahun, kawasan pesisir Candidasa mengalami abrasi cukup parah akibat gelombang laut dan perubahan kondisi pesisir. Bahkan di sejumlah titik, garis pantai terus menyempit hingga mengancam infrastruktur pariwisata dan permukiman warga.
Kondisi abrasi di Candidasa mulai menjadi perhatian serius sejak dekade 1990-an. Salah satu penyebab utama kerusakan pantai disebut akibat pengambilan karang laut pada masa lalu untuk kebutuhan pembangunan, sehingga fungsi alami pemecah gelombang di kawasan tersebut berkurang drastis.
Akibatnya, ombak langsung menghantam bibir pantai dan memicu pengikisan yang semakin meluas dari tahun ke tahun. Sejumlah hotel di sepanjang kawasan wisata Candidasa bahkan harus membangun pelindung darurat secara mandiri untuk menahan abrasi.
Melalui proyek konservasi ini, pemerintah tidak hanya membangun revetment, tetapi juga melakukan penambahan pasir pantai, konservasi terumbu karang, serta penataan kembali kawasan pesisir. Program ini diharapkan mampu mengembalikan fungsi ekologis pantai sekaligus memperkuat sektor pariwisata di Karangasem.
Selain perlindungan pesisir, proyek ini juga diharapkan mampu mengembalikan citra Pantai Candidasa sebagai destinasi wisata unggulan Bali Timur seperti era 1980-an, ketika kawasan tersebut dikenal dengan panorama pantai yang indah dan menjadi salah satu tujuan favorit wisatawan mancanegara.
Pemerintah menargetkan proyek konservasi Pantai Candidasa rampung pada November 2027. Setelah selesai, kawasan pesisir dari Buitan hingga Candidasa diharapkan lebih aman dari ancaman abrasi, sekaligus mampu meningkatkan daya tarik wisata dan pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar.










