TVRINews, Denpasar
Sektor pariwisata Bali kembali menunjukkan ketangguhannya di tengah maraknya berbagai isu negatif yang beredar di media sosial. Alih-alih menurunkan minat wisatawan, Pulau Dewata justru mencatat lonjakan kunjungan yang melampaui capaian sebelum pandemi COVID-19.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Bali Wayan Koster saat memberikan sambutan dalam acara Pengukuhan Dewan Pengurus Daerah (DPD) Gabungan Perusahaan Eksportir Indonesia (GPEI) Bali di Kuta, Kabupaten Badung, Kamis pagi.
Menurut Koster, berbagai narasi negatif yang belakangan ramai disebarkan melalui media sosial, termasuk oleh sejumlah influencer, tidak berdampak signifikan terhadap kepercayaan wisatawan untuk datang ke Bali. Kondisi di lapangan justru menunjukkan tren yang berlawanan, dengan jumlah kunjungan wisatawan yang terus mengalami peningkatan.
Berdasarkan data terbaru yang dipaparkan Pemerintah Provinsi Bali, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara melalui pintu masuk internasional telah mencapai 7,05 juta orang. Angka tersebut meningkat sekitar 750 ribu wisatawan dibandingkan periode sebelumnya sekaligus melampaui rekor kunjungan sebelum pandemi pada 2019 yang tercatat sebanyak 6,27 juta wisatawan mancanegara.
Tidak hanya wisatawan asing, pergerakan wisatawan nusantara juga menunjukkan tren positif. Sepanjang periode yang sama, jumlah wisatawan domestik yang berkunjung ke Bali mencapai 9,3 juta orang. Hal itu mencerminkan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap Bali sebagai salah satu destinasi wisata utama di Indonesia.
Koster menilai capaian tersebut menjadi indikator bahwa citra Bali sebagai destinasi wisata kelas dunia tetap kuat meskipun menghadapi berbagai opini negatif di ruang digital.
"Data menunjukkan kunjungan wisatawan justru terus meningkat. Bahkan telah melampaui angka sebelum pandemi. Ini membuktikan bahwa isu-isu negatif yang beredar di media sosial tidak memengaruhi kepercayaan wisatawan untuk datang ke Bali," ujar Wayan Koster, Kamis, 6 Agustus 2026.
Menurutnya, fenomena yang berkembang di media sosial sering kali tidak mencerminkan kondisi nyata di lapangan. Berbagai unggahan yang menyoroti sisi negatif Bali memang sempat menjadi perbincangan publik, tetapi tidak berdampak terhadap aktivitas pariwisata yang tetap berjalan normal.
Koster bahkan menyebut, semakin sering Bali menjadi bahan pembicaraan di media sosial, semakin besar pula perhatian masyarakat dunia terhadap Pulau Dewata. Ia menilai eksposur tersebut secara tidak langsung turut meningkatkan rasa ingin tahu wisatawan untuk datang dan melihat langsung kondisi Bali.
"Semakin diterpa isu di media sosial, Bali justru semakin dikenal dan semakin banyak orang yang datang. Faktanya, kondisi di lapangan tetap kondusif," katanya.
Ia menjelaskan, sejumlah destinasi wisata utama seperti Kuta, Nusa Dua, Ubud, hingga kawasan wisata lainnya tetap ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara. Aktivitas pariwisata berlangsung normal, mulai dari tingkat hunian hotel, kunjungan ke objek wisata, restoran, hingga pusat-pusat ekonomi kreatif yang terus bergerak.
Selain didukung keindahan alam dan kekayaan budaya, Bali juga dinilai tetap memiliki daya tarik kuat karena keramahan masyarakatnya. Faktor-faktor tersebut menjadi modal utama dalam menjaga kepercayaan wisatawan di tengah derasnya arus informasi di media sosial.
Pemerintah Provinsi Bali pun terus berupaya menjaga kualitas destinasi melalui peningkatan kebersihan, keamanan, penataan kawasan wisata, serta penguatan regulasi bagi wisatawan dan pelaku usaha. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pengalaman wisata di Bali tetap berkualitas sekaligus menjaga keberlanjutan sektor pariwisata.
Koster berharap tren positif kunjungan wisatawan dapat terus dipertahankan hingga akhir tahun. Ia juga mengajak seluruh pemangku kepentingan di sektor pariwisata untuk menjaga citra Bali dengan memberikan pelayanan terbaik kepada wisatawan serta tetap mengedepankan nilai budaya, kelestarian lingkungan, dan kearifan lokal.
Dengan capaian lebih dari 7 juta wisatawan mancanegara dan 9,3 juta wisatawan domestik, Bali kembali menegaskan posisinya sebagai lokomotif pariwisata nasional. Data tersebut sekaligus menunjukkan bahwa persepsi yang berkembang di media sosial tidak selalu sejalan dengan kondisi riil di lapangan, di mana Pulau Dewata masih menjadi destinasi favorit bagi jutaan wisatawan dari dalam maupun luar negeri.









