TVRINews, Badung
Berakhirnya gelaran Piala Dunia FIFA 2026 yang ditutup dengan kemenangan Spanyol atas Argentina di partai final tidak hanya menandai usainya pesta sepak bola dunia, tetapi juga mengakhiri momentum peningkatan aktivitas ekonomi yang dirasakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Badung.
Para pelaku UMKM kini berharap pemerintah daerah tetap memberikan ruang bagi mereka untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan publik maupun event berskala besar sebagai upaya menjaga keberlangsungan usaha.
Selama berlangsungnya Piala Dunia 2026, berbagai kegiatan nonton bareng (nobar) yang digelar di ruang-ruang publik, kawasan wisata, hingga pusat keramaian di Badung mampu menarik ribuan pengunjung. Kondisi tersebut memberikan dampak positif bagi pelaku usaha lokal, terutama pedagang kuliner, minuman, serta pedagang kaki lima yang berjualan di sekitar lokasi kegiatan.
Sejumlah pelaku UMKM mengaku mengalami peningkatan omzet hingga sekitar 30 persen dibandingkan hari biasa. Selain meningkatnya transaksi penjualan, kegiatan nobar juga menjadi sarana promosi yang efektif karena memperkenalkan produk-produk lokal kepada masyarakat maupun wisatawan yang hadir.
Salah seorang pelaku UMKM, Putu Tatik, mengatakan momentum Piala Dunia memberikan manfaat nyata bagi usahanya. Ramainya pengunjung membuat penjualan meningkat hampir setiap kali kegiatan nobar digelar.
"Selama ada kegiatan nobar, penjualan kami meningkat cukup signifikan. Harapannya, kegiatan seperti ini tidak hanya ada saat Piala Dunia, tetapi juga bisa terus dilaksanakan pada event-event lain sehingga UMKM tetap mendapat kesempatan untuk berjualan," ujarnya.
Hal senada disampaikan pelaku UMKM lainnya, Gayatri, yang menilai keberadaan stan UMKM dalam berbagai kegiatan mampu memperluas jangkauan pasar sekaligus memperkenalkan produk lokal kepada konsumen baru.
Menurutnya, dukungan pemerintah tidak hanya diperlukan dalam bentuk pembinaan, tetapi juga melalui penyediaan ruang usaha dalam setiap penyelenggaraan kegiatan yang melibatkan masyarakat.
Pelaku UMKM lainnya, Citra, berharap pemerintah daerah dapat menjadikan pola kolaborasi yang terbangun selama Piala Dunia sebagai agenda berkelanjutan. Menurutnya, event berskala besar memiliki efek berganda (multiplier effect) terhadap perekonomian masyarakat, terutama bagi pelaku usaha kecil yang mengandalkan penjualan langsung kepada pengunjung.
"Kami berharap UMKM selalu dilibatkan dalam setiap kegiatan besar yang diselenggarakan pemerintah. Dengan begitu, ekonomi masyarakat bisa terus bergerak dan pelaku usaha kecil memiliki kesempatan untuk berkembang," katanya.
Keberadaan UMKM dalam berbagai kegiatan publik dinilai tidak hanya meningkatkan pendapatan pelaku usaha, tetapi juga memperkuat ekosistem ekonomi lokal. Aktivitas transaksi yang terjadi selama penyelenggaraan acara turut menggerakkan sektor lain, mulai dari pemasok bahan baku, jasa transportasi, hingga tenaga kerja harian.
Pemerintah sendiri selama beberapa tahun terakhir terus mendorong penguatan sektor UMKM sebagai salah satu penopang perekonomian daerah. Di Bali, sektor UMKM memiliki peran strategis karena sebagian besar bergerak di bidang kuliner, kriya, fesyen, dan produk kreatif yang juga menjadi pendukung utama industri pariwisata.
Para pelaku usaha berharap keberhasilan penyelenggaraan nobar Piala Dunia 2026 dapat menjadi evaluasi positif bagi pemerintah untuk terus mengintegrasikan UMKM dalam berbagai agenda daerah, baik kegiatan olahraga, festival budaya, konser musik, pameran, maupun event pariwisata internasional yang rutin diselenggarakan di Bali.
Dengan berakhirnya euforia Piala Dunia, para pelaku UMKM berharap semangat kolaborasi yang telah terbangun tidak ikut berakhir. Mereka meyakini bahwa keterlibatan UMKM dalam setiap kegiatan publik tidak hanya menciptakan ruang usaha baru, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam memperkuat ekonomi kerakyatan, meningkatkan daya saing produk lokal, serta menjaga perputaran ekonomi daerah agar tetap tumbuh secara berkelanjutan.










