TVRINews, Jembrana
Kasus rabies pada hewan di Kabupaten Jembrana menunjukkan tren penurunan yang signifikan sepanjang tahun 2026. Hingga pertengahan Juli 2026, Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Jembrana mencatat 54 kasus positif rabies pada hewan, turun lebih dari 50 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai 116 kasus.
Penurunan jumlah kasus tersebut dinilai sebagai hasil dari berbagai upaya pengendalian rabies yang dilakukan pemerintah daerah, mulai dari pelaksanaan vaksinasi massal terhadap hewan penular rabies (HPR), peningkatan pengawasan di lapangan, hingga edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pencegahan dan pengendalian penyakit rabies.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Jembrana, I Gusti Ngurah Putu Sugiarta, mengatakan meskipun jumlah kasus mengalami penurunan, pemerintah daerah tetap meningkatkan kewaspadaan mengingat rabies merupakan penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan kepada manusia dan berpotensi menyebabkan kematian apabila tidak segera ditangani.
Menurutnya, strategi pengendalian rabies saat ini difokuskan pada pelaksanaan vaksinasi di wilayah-wilayah yang sebelumnya pernah ditemukan kasus positif. Langkah tersebut dilakukan untuk membentuk kekebalan populasi hewan penular rabies sekaligus memutus rantai penyebaran virus di masyarakat.
Selain anjing sebagai hewan penular utama, vaksinasi juga diberikan kepada kucing dan hewan penular rabies lainnya yang dipelihara masyarakat. Pemerintah berharap cakupan vaksinasi yang semakin luas mampu menekan risiko penyebaran rabies di seluruh wilayah Kabupaten Jembrana.
Untuk mendukung program tersebut, Pemerintah Kabupaten Jembrana memastikan ketersediaan vaksin masih mencukupi. Hingga Juli 2026, stok vaksin rabies yang tersedia tercatat lebih dari 40 ribu dosis, sehingga dinilai mampu memenuhi kebutuhan vaksinasi lanjutan di berbagai desa dan kelurahan.
Sementara itu, hingga pertengahan Juli 2026, jumlah hewan yang telah menerima vaksin rabies mencapai 14.417 ekor. Jumlah tersebut akan terus ditingkatkan melalui vaksinasi rutin maupun kegiatan jemput bola ke wilayah yang memiliki populasi hewan penular rabies cukup tinggi.
I Gusti Ngurah Putu Sugiarta menjelaskan, keberhasilan menurunkan angka kasus tidak terlepas dari meningkatnya partisipasi masyarakat dalam membawa hewan peliharaan untuk divaksin serta semakin cepatnya pelaporan apabila ditemukan hewan yang menunjukkan gejala rabies.
"Hingga Juli 2026 kami mencatat 54 kasus rabies, menurun dibandingkan tahun lalu yang mencapai 116 kasus. Vaksinasi terhadap hewan penular rabies terus kami gencarkan, terutama di wilayah yang sebelumnya pernah ditemukan kasus. Stok vaksin masih lebih dari 40 ribu dosis dan hingga saat ini sudah 14.417 ekor hewan berhasil divaksin," ucapnya.
Rabies masih menjadi salah satu penyakit yang mendapat perhatian serius di Provinsi Bali. Penyakit yang disebabkan oleh virus rabies ini menyerang sistem saraf mamalia dan dapat menular kepada manusia melalui gigitan, cakaran, maupun jilatan hewan yang terinfeksi pada luka terbuka.
Organisasi kesehatan dunia menyebut rabies hampir selalu berakibat fatal apabila gejala klinis telah muncul, sehingga pencegahan melalui vaksinasi menjadi langkah paling efektif. Karena itu, pengendalian rabies tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat.
Pemilik hewan peliharaan diimbau untuk memberikan vaksin rabies secara rutin, tidak membiarkan hewan berkeliaran tanpa pengawasan, serta segera melaporkan kepada petugas apabila menemukan hewan yang menunjukkan gejala seperti perubahan perilaku, agresif secara tiba-tiba, hipersalivasi atau mengeluarkan air liur berlebihan, serta kelumpuhan.
Selain itu, masyarakat yang mengalami gigitan hewan penular rabies diminta segera mencuci luka menggunakan air mengalir dan sabun selama sedikitnya 15 menit, kemudian secepatnya mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis dan vaksin antirabies apabila diperlukan.
Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Jembrana menegaskan akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah desa, puskeswan, tenaga kesehatan hewan, serta masyarakat guna mempertahankan tren penurunan kasus rabies. Dengan cakupan vaksinasi yang semakin luas, pengawasan yang berkelanjutan, serta meningkatnya kesadaran masyarakat, pemerintah berharap penyebaran rabies di Kabupaten Jembrana dapat terus ditekan sehingga risiko penularan kepada manusia semakin kecil.









