TVRINews, Denpasar
Usulan agar Pesta Kesenian Bali (PKB) diselenggarakan dua tahun sekali mendapat tanggapan dari kalangan budayawan dan pelaku seni di Bali. Mereka menilai usulan tersebut kurang tepat karena PKB selama ini tidak hanya menjadi ajang pertunjukan seni, tetapi juga berfungsi sebagai ruang kreativitas, regenerasi, dan pelestarian budaya Bali.
Sejak pertama kali digelar pada 1979, PKB telah menjadi agenda kebudayaan tahunan yang mempertemukan seniman, sanggar, komunitas budaya, serta perwakilan kabupaten dan kota se-Bali untuk menampilkan karya terbaik mereka.
Bagi para pelaku seni, PKB memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar festival selama satu bulan. Ajang tersebut dinilai menjadi bagian penting dari ekosistem kebudayaan yang mendorong lahirnya karya-karya baru sekaligus menjaga keberlangsungan seni tradisi Bali.
Guru Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Bali I Wayan Dibia mengatakan penyelenggaraan PKB setiap tahun masih sangat relevan untuk dipertahankan karena menjadi ruang yang mendorong tumbuhnya kreativitas para seniman.
“PKB bukan hanya sebuah festival pertunjukan. PKB adalah ruang kreativitas, ruang pembelajaran, ruang regenerasi, dan ruang apresiasi yang sangat penting bagi perkembangan kesenian Bali,” ujar Dibia.
Menurutnya, banyak seniman menjadikan PKB sebagai target penciptaan karya. Jadwal penyelenggaraan yang rutin setiap tahun mendorong para seniman untuk terus melakukan riset, berlatih, dan mengembangkan bentuk-bentuk seni baru tanpa meninggalkan akar tradisinya.
“Saya pribadi melihat kondisi sekarang ini, justru kita perlu memberikan ruang yang lebih besar bagi seniman Bali untuk mendorong kreativitas para seniman kita. Kalau kita tidak waspada, kreativitas akan terbendung karena tidak adanya wahana. Di zaman sekarang ini, saya rasa kita juga perlu lebih gencar memberikan edukasi budaya bagi masyarakat,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan pelaku seni Ida Bagus Eka Haristha. Ia menilai dampak PKB tidak hanya dirasakan saat festival berlangsung, tetapi juga selama proses persiapan yang melibatkan aktivitas seni di tingkat akar rumput.
“Ketika PKB berlangsung setiap tahun, para seniman memiliki motivasi untuk terus berlatih, menciptakan karya, dan melakukan pembinaan generasi muda. Kalau frekuensinya dikurangi, tentu ruang-ruang kreatif yang selama ini tumbuh juga berpotensi ikut berkurang,” ujarnya.
Selain menjadi wadah ekspresi budaya, PKB juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Ribuan seniman, perajin, pelaku UMKM, hingga sektor pariwisata memperoleh manfaat dari rangkaian kegiatan yang berlangsung menjelang dan selama festival digelar.
Aktivitas latihan, produksi karya seni, pameran, hingga pertunjukan dinilai mampu menciptakan perputaran ekonomi yang melibatkan banyak lapisan masyarakat.
Para budayawan menilai, apabila tujuan pemerintah adalah meningkatkan kualitas penyelenggaraan PKB, langkah yang lebih tepat bukan mengurangi frekuensi pelaksanaan, melainkan memperkuat kualitas program, memperluas jangkauan kegiatan, serta memperbanyak ruang apresiasi seni sepanjang tahun.
Menurut mereka, Bali memiliki ribuan kelompok kesenian yang tersebar di berbagai daerah. Potensi tersebut justru membutuhkan lebih banyak panggung dan ruang ekspresi agar dapat terus berkembang dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena itu, sejumlah pelaku seni mendorong agar agenda kebudayaan di Bali tidak dikurangi, melainkan diperbanyak dan diperkuat.
Selain PKB, festival seni di tingkat desa, kecamatan, kabupaten, hingga provinsi dinilai perlu terus dikembangkan untuk menjaga keberlangsungan ekosistem seni budaya Bali. Di tengah tantangan modernisasi dan perubahan sosial yang semakin cepat, keberadaan ruang budaya seperti PKB dipandang sebagai instrumen penting dalam menjaga identitas budaya Bali.
Bagi para seniman, keberlanjutan festival tersebut bukan sekadar mempertahankan agenda tahunan, melainkan menjaga proses kreatif, regenerasi, dan pelestarian budaya yang telah berlangsung selama puluhan tahun.










