TVRINews, Badung
Kekayaan filosofi dan seni tradisi Bali kembali dikemas dalam bentuk pertunjukan inovatif. Filosofi Rwa Bhinneda, yang mengajarkan keseimbangan antara dua hal yang saling berlawanan, ditransformasikan menjadi pertunjukan tari spektakuler berkonsep glow in the dark di Pulau Peninsula, Kawasan ITDC Nusa Dua, Kabupaten Badung.
Tidak sekadar menghadirkan hiburan visual, garapan bertajuk Cipta Rwa Loka tersebut mengangkat pesan pelestarian lingkungan melalui nilai-nilai Tri Hita Karana, yakni konsep keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan (Parhyangan), sesama manusia (Pawongan), dan alam (Palemahan). Pesan tersebut disampaikan melalui perpaduan koreografi tari tradisional, tata cahaya modern, musik, dan efek visual yang menciptakan pengalaman pertunjukan berbeda bagi penonton.
Berbeda dengan pertunjukan seni konvensional, konsep glow in the dark menjadikan cahaya sebagai bagian utama dari narasi pertunjukan. Kostum dan properti para penari memancarkan cahaya di tengah suasana malam sehingga menghadirkan kesan magis sekaligus memperkuat makna filosofi Rwa Bhinneda tentang terang dan gelap, baik dan buruk, serta keseimbangan yang harus dijaga dalam kehidupan.
Pertunjukan ini digarap oleh Komunitas Seni Naluri Manca, kelompok seni asal Bali yang dikenal aktif mengembangkan seni pertunjukan berbasis budaya lokal dan pernah meraih penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) pada 2024. Melalui karya-karyanya, komunitas ini berupaya menghadirkan inovasi tanpa meninggalkan akar tradisi Bali.
Selain menjadi atraksi wisata, pertunjukan tersebut juga berfungsi sebagai ruang pembinaan generasi muda. Puluhan penari dari berbagai usia dilibatkan, mulai dari anak-anak berusia sembilan tahun, pelajar tingkat SMP, hingga penari profesional. Keterlibatan lintas generasi ini menjadi bagian dari proses regenerasi seniman sekaligus pembentukan karakter, disiplin, dan profesionalisme di bidang seni pertunjukan.
Pencipta Karya Seni, Ida Bagus Eka Haristha, menjelaskan bahwa karya Cipta Rwa Loka sengaja dirancang agar seni pertunjukan tidak hanya dinikmati sebagai tontonan, tetapi juga mampu menjadi media edukasi yang menyampaikan pesan moral kepada masyarakat.
"Melalui pertunjukan ini kami ingin menyampaikan bahwa seni bukan hanya hiburan, tetapi juga tuntunan. Filosofi Rwa Bhinneda dan nilai Tri Hita Karana kami hadirkan untuk mengajak masyarakat semakin peduli terhadap alam dan menjaga keseimbangan kehidupan," ujar Ida Bagus Eka Haristha.
Pemilihan tema tersebut dinilai relevan dengan berbagai tantangan lingkungan yang dihadapi Bali, mulai dari persoalan sampah, pencemaran kawasan pesisir, hingga perubahan iklim. Melalui pendekatan seni, pesan pelestarian lingkungan diharapkan lebih mudah diterima oleh masyarakat maupun wisatawan yang menyaksikan pertunjukan.
Ke depan, Komunitas Naluri Manca akan rutin tampil setiap akhir pekan di Pulau Peninsula, Nusa Dua, dengan menghadirkan tema-tema berbeda yang tetap berakar pada filosofi dan kearifan lokal Bali. Beberapa konsep yang tengah disiapkan di antaranya Segara Kerthi, yang mengangkat pentingnya menjaga kelestarian laut, serta Danu Kerthi, yang mengisahkan nilai-nilai pelestarian danau dan sumber air dalam mitologi Bali.
Inovasi tersebut diharapkan semakin memperkaya atraksi seni budaya Bali sekaligus memperkuat posisi Pulau Dewata sebagai destinasi wisata budaya kelas dunia. Di sisi lain, pengemasan seni tradisi dengan sentuhan teknologi modern menjadi bukti bahwa budaya Bali mampu terus berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan nilai-nilai luhur yang menjadi identitasnya.









