TVRINews, Denpasar
Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Bali pada tahun 2026 berada di kisaran 5,4 hingga 5,9 persen. BI optimistis pertumbuhan ekonomi Pulau Dewata dapat mendekati batas atas proyeksi tersebut dengan catatan stabilitas harga tetap terjaga dan ketahanan ekonomi daerah terus diperkuat di tengah dinamika perekonomian.
Proyeksi tersebut disampaikan dalam kegiatan Temu Wirasa Bank Indonesia Provinsi Bali yang digelar untuk memperkuat sinergi antarpemangku kepentingan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, berkelanjutan, dan berdaya saing.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani mengatakan, optimisme terhadap prospek ekonomi Bali perlu diikuti dengan kebijakan yang tepat dan responsif terhadap perkembangan di lapangan. Menurutnya, menjaga pertumbuhan ekonomi memerlukan dukungan data yang akurat serta koordinasi yang kuat antara pemerintah, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan.
Perkembangan harga pangan, aktivitas konsumsi masyarakat, hingga kinerja dunia usaha menjadi indikator penting dalam membaca arah perekonomian Bali. Informasi tersebut diperlukan agar kebijakan yang dirumuskan mampu menjawab kebutuhan ekonomi daerah sekaligus mengantisipasi potensi tekanan.
“Pada tahun 2026 ini, kami perkirakan Bali akan tetap tumbuh di 5,4 sampai 5,9, bahkan kami mungkin optimis juga dekat ke 5,9. Ini mendekati arah yang lebih atas, optimis untuk ada di sana,” ujar Achris Sarwani.
Selain itu, BI Bali menaruh perhatian pada pengendalian inflasi agar tetap berada dalam sasaran nasional, yakni 2,5 persen dengan toleransi plus minus 1 persen atau berada pada rentang 1,5 hingga 3,5 persen. Stabilitas harga menjadi faktor penting untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendukung aktivitas ekonomi daerah.
Di sisi lain, Gubernur Bali Wayan Koster menyoroti struktur perekonomian Bali yang hingga kini masih sangat bergantung pada sektor pariwisata. Kunjungan wisatawan mancanegara maupun domestik dinilai memiliki peran besar dalam menggerakkan aktivitas ekonomi, mulai dari sektor akomodasi, makanan dan minuman, transportasi, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Ketergantungan tersebut membuat perkembangan ekonomi Bali turut dipengaruhi oleh dinamika perjalanan wisata, daya beli wisatawan, serta kondisi ekonomi di negara asal wisatawan maupun di dalam negeri.
“Kita bisa lihat pertumbuhan ekonomi Bali dari kedatangan wisatawan mancanegara maupun domestic. Sekarang saja rata-rata kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 20 ribu orang per-hari,” kata Koster.
Oleh sebab itu, menjaga kinerja pariwisata tetap menjadi faktor penting dalam mempertahankan pertumbuhan ekonomi Bali, yang dibarengi dengan penguatan ketahanan ekonomi daerah melalui kebijakan berbasis data yang akurat.
Temu Wirasa Bank Indonesia Provinsi Bali tahun ini mengangkat tema Data Pramana Bali Rahayu: Bersinergi Mendorong Pertumbuhan Bali yang Lebih Tinggi dan Berdaya Saing. Melalui forum tersebut, BI Bali mendorong agar optimisme pertumbuhan ekonomi diiringi dengan upaya menjaga stabilitas harga, memperkuat ketahanan ekonomi, serta meningkatkan daya saing daerah secara berkelanjutan.










