TVRINews, Tabanan
Masyarakat Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Bali, melaksanakan upacara Tumpek Uye atau Tumpek Kandang di kawasan Hutan Suci Alas Kedaton.
Tradisi yang dilaksanakan setiap 210 hari berdasarkan kalender Pawukon Bali ini menjadi momentum bagi masyarakat untuk mengungkapkan rasa syukur sekaligus penghormatan terhadap satwa sebagai bagian dari kehidupan dan keseimbangan alam.
Pelaksanaan Tumpek Uye di Alas Kedaton tidak hanya dimaknai sebagai rangkaian ritual keagamaan, tetapi juga merefleksikan hubungan masyarakat Bali dengan lingkungan dan seluruh makhluk hidup. Melalui upacara tersebut, masyarakat kembali diingatkan mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, satwa, dan alam.
Di kawasan Hutan Suci Alas Kedaton, prosesi Tumpek Uye dilaksanakan sebagai tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Umat Hindu memanjatkan doa dan mempersembahkan sarana yadnya sebagai bentuk rasa syukur sekaligus memohon keselamatan serta kesejahteraan bagi seluruh makhluk hidup.
Nilai tersebut menjadi semakin relevan karena Alas Kedaton merupakan kawasan hutan yang selama ini menjadi habitat bagi satwa, khususnya kera ekor panjang. Keberadaan satwa di kawasan ini tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Desa Kukuh, baik dari sisi sosial, budaya maupun lingkungan.
Hutan Suci Alas Kedaton memiliki luas sekitar 12 hektare dan menjadi habitat bagi sekitar 1.500 ekor kera ekor panjang. Satwa tersebut sekaligus menjadi salah satu ikon kawasan Alas Kedaton yang keberadaannya terus dijaga oleh masyarakat setempat.
Bagi masyarakat Desa Kukuh, menjaga keberadaan kera tidak dapat dilakukan hanya dengan mempertahankan populasi satwanya. Kelestarian habitat juga menjadi bagian penting dalam upaya menjaga keseimbangan ekosistem kawasan. Karena itu, keberadaan Hutan Suci Alas Kedaton dipertahankan sebagai ruang hidup bagi satwa. Kelestarian kawasan hutan menjadi salah satu kunci agar kera tetap dapat hidup dan berkembang di habitat alaminya.
Pelaksanaan Tumpek Uye kemudian menjadi salah satu momentum untuk kembali memperkuat kesadaran masyarakat mengenai hubungan antara manusia dengan satwa dan lingkungan.
Bendesa Adat Kukuh Marga, I Gusti Ngurah Artha Wijaya, menjelaskan bahwa tradisi Tumpek Uye tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan upacara, tetapi juga mengandung pesan mengenai penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup.
Setelah prosesi upacara selesai, sebagian sarana upacara berupa buah dan makanan diberikan kepada kera yang berada di kawasan Alas Kedaton. Pemberian tersebut menjadi bagian dari rangkaian tradisi sekaligus menggambarkan penghormatan masyarakat terhadap satwa yang telah menjadi bagian dari kawasan tersebut.
“Tumpek Uye menjadi momentum untuk mengingatkan kita agar senantiasa menghormati dan menjaga keberadaan satwa sebagai bagian dari kehidupan dan keseimbangan alam," kata I Gusti Ngurah Artha Wijaya, Minggu, 6 September 2026.
Tradisi tersebut juga menjadi sarana untuk menanamkan kepedulian terhadap lingkungan secara berkelanjutan. Masyarakat tidak hanya melihat satwa sebagai bagian dari tradisi, tetapi juga menyadari pentingnya menjaga kawasan hutan sebagai habitat tempat satwa hidup.
Keberadaan sekitar 1.500 ekor kera ekor panjang di Alas Kedaton menjadi tanggung jawab bersama agar hubungan antara aktivitas manusia, keberadaan satwa, dan kelestarian lingkungan tetap berjalan secara seimbang.
Melalui Tumpek Uye, masyarakat Desa Kukuh kembali menegaskan nilai kehidupan yang menempatkan manusia sebagai bagian dari alam, bukan sebagai satu-satunya pihak yang berhak memanfaatkan lingkungan.
Pesan tersebut tercermin melalui penghormatan terhadap satwa dan upaya mempertahankan kelestarian Hutan Suci Alas Kedaton. Tradisi yang dilaksanakan setiap 210 hari ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keberadaan manusia dan satwa saling berkaitan dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Bagi masyarakat setempat, pelestarian Alas Kedaton bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga bagian dari upaya menjaga warisan budaya yang telah berlangsung secara turun-temurun.
Dengan demikian, Tumpek Uye tidak berhenti pada pelaksanaan ritual keagamaan. Tradisi ini menjadi ruang untuk memperkuat kesadaran kolektif bahwa menjaga satwa dan habitatnya merupakan bagian dari tanggung jawab manusia dalam mempertahankan keseimbangan alam.
Melalui nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, Tumpek Uye di Alas Kedaton menjadi gambaran bagaimana tradisi dan kearifan lokal Bali dapat berjalan beriringan dengan upaya pelestarian lingkungan serta perlindungan satwa.










