TVRINews, Bali
Kawasan hutan mangrove Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai, Bali, kembali dibuka untuk masyarakat dan wisatawan melalui fasilitas mangrove tracking dan Mangrove Information Center. Pembukaan kembali fasilitas tersebut memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk menikmati wisata alam sekaligus mempelajari pentingnya ekosistem mangrove dalam menjaga kelestarian lingkungan pesisir.
Pengunjung dapat menyusuri jalur kayu sepanjang sekitar 1,4 kilometer di tengah hutan mangrove, mengamati keanekaragaman hayati, serta mempelajari fungsi ekologis mangrove. Kawasan ini juga dilengkapi fasilitas edukasi berupa ruang eksibisi, ruang teater, dan menara observasi.
Direktur Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan Kementerian Kehutanan, Dyah Murtiningsih, mengatakan rehabilitasi mangrove di Tahura Ngurah Rai menjadi salah satu contoh pemulihan kawasan yang sebelumnya mengalami perubahan fungsi menjadi tambak.
Kawasan tersebut mulai direhabilitasi pada 1992 untuk dikembalikan menjadi ekosistem mangrove. Upaya ini menjadi bagian dari pelestarian hutan sekaligus pemulihan fungsi lingkungan di wilayah pesisir Bali.
“Rehabilitasi mangrove di Tahura Ngurah Rai ini menjadi salah satu contoh nyata bagaimana kawasan yang sebelumnya dimanfaatkan sebagai tambak dapat dipulihkan menjadi ekosistem mangrove. Melalui kawasan ini, masyarakat tidak hanya bisa menikmati keindahan alam, tetapi juga belajar mengenai pentingnya menjaga dan melestarikan mangrove,” ujar Dyah Murtiningsih.
Menurut Dyah, keberadaan Mangrove Information Center dan jalur mangrove tracking memiliki nilai strategis karena menggabungkan kepentingan konservasi, edukasi, dan pemanfaatan kawasan secara berkelanjutan.
Melalui fasilitas tersebut, masyarakat dapat melihat langsung kondisi ekosistem mangrove, mengenali keanekaragaman hayati di dalamnya, serta memahami manfaatnya bagi kehidupan manusia.
Mangrove memiliki fungsi ekologis penting bagi kawasan pesisir. Selain menjadi habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna, ekosistem ini membantu mengurangi energi gelombang, menahan sedimen, dan melindungi garis pantai dari ancaman abrasi.
Hutan mangrove juga berperan dalam menyimpan karbon sehingga turut mendukung upaya mitigasi perubahan iklim. Karena itu, pelestarian mangrove tidak hanya berkaitan dengan perlindungan vegetasi, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem pesisir yang menopang kehidupan berbagai organisme dan masyarakat di sekitarnya.
Dyah berharap, pembukaan kembali fasilitas wisata dan edukasi di Tahura Ngurah Rai dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya mangrove dalam pelestarian lingkungan.
Indonesia memiliki kawasan mangrove yang luas dan menjadi salah satu negara dengan ekosistem mangrove terbesar di dunia. Kondisi tersebut menempatkan Indonesia pada posisi penting dalam upaya pelestarian mangrove, baik melalui perlindungan kawasan yang masih terjaga maupun rehabilitasi wilayah yang mengalami kerusakan.
Dalam konteks tersebut, Tahura Ngurah Rai diharapkan menjadi contoh pemanfaatan kawasan mangrove sebagai sarana pembelajaran tanpa mengesampingkan kepentingan konservasi.
Dyah menilai, fasilitas informasi dan jalur tracking memungkinkan masyarakat memperoleh pengalaman belajar secara langsung. Pengunjung tidak hanya mendapatkan informasi melalui materi edukasi, tetapi juga dapat mengamati lingkungan mangrove dan memahami keterkaitan antara vegetasi, satwa, serta kondisi ekosistem pesisir.
“Kami berharap kawasan ini tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan dan inspirasi bagi masyarakat. Dengan melihat langsung ekosistem mangrove, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa menjaga mangrove berarti ikut menjaga keberlanjutan lingkungan pesisir,”jelasnya.
Pendekatan wisata berbasis edukasi tersebut dinilai penting untuk membangun kesadaran konservasi, terutama di tengah perkembangan pariwisata yang perlu memperhatikan aspek lingkungan.
Bagi wisatawan, kunjungan ke Tahura Ngurah Rai dapat menjadi alternatif untuk mengenal sisi lain pariwisata Bali yang tidak hanya berorientasi pada rekreasi, tetapi juga pengetahuan dan pelestarian alam.
Sementara itu, bagi pelajar dan masyarakat umum, kawasan ini dapat dimanfaatkan sebagai ruang pembelajaran mengenai keanekaragaman hayati, rehabilitasi hutan, dan pentingnya ekosistem pesisir.
Pengunjung Dibatasi melalui Sistem Kuota
Meski kembali dibuka untuk umum, pengelola tetap menerapkan pembatasan jumlah pengunjung untuk menjaga kondisi ekosistem mangrove. Pembatasan dilakukan melalui sistem kuota harian, sedangkan calon pengunjung diwajibkan mendaftar secara daring sebelum datang ke lokasi.
Sistem tersebut diterapkan untuk mengendalikan aktivitas wisata agar tidak menimbulkan tekanan berlebihan terhadap lingkungan. Pengaturan jumlah pengunjung juga diharapkan dapat menjaga kenyamanan selama menyusuri jalur trackingsekaligus mendukung pengawasan aktivitas di dalam kawasan.
Pengelolaan kunjungan menjadi penting karena ekosistem mangrove perlu dilindungi dari gangguan aktivitas manusia. Peningkatan jumlah pengunjung tanpa pengelolaan yang memadai berpotensi menimbulkan sampah, mengganggu satwa, serta merusak vegetasi di sekitar jalur wisata.
Oleh karena itu, masyarakat yang berencana berkunjung perlu memperhatikan ketentuan pendaftaran daring dan kuota yang berlaku. Informasi mengenai jadwal kunjungan, ketersediaan kuota, serta mekanisme reservasi sebaiknya dikonfirmasi melalui kanal resmi pengelola sebelum keberangkatan.
Selain jalur mangrove tracking sepanjang sekitar 1,4 kilometer, ruang eksibisi, ruang teater, dan menara observasi menjadi fasilitas pendukung yang dapat memperkaya pengalaman pengunjung. Fasilitas tersebut memungkinkan kegiatan wisata dipadukan dengan pembelajaran mengenai mangrove, fungsi ekologisnya, serta upaya rehabilitasi dan pelestarian hutan.
Kawasan ini sebelumnya sempat dibuka untuk umum, kemudian ditutup saat berlangsungnya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20. Dengan dibukanya kembali fasilitas mangrove tracking dan Mangrove Information Center, masyarakat dan wisatawan kembali memiliki kesempatan untuk menikmati sekaligus mempelajari ekosistem mangrove di kawasan perkotaan Denpasar.
Pembukaan kembali fasilitas tersebut juga menunjukkan pentingnya pengelolaan kawasan hijau di tengah perkembangan aktivitas perkotaan dan pariwisata. Keberadaan mangrove tidak hanya memberikan nilai estetika, tetapi juga memiliki fungsi ekologis yang mendukung ketahanan lingkungan pesisir dalam jangka panjang.
Ke depan, pemanfaatan Tahura Ngurah Rai sebagai destinasi wisata edukasi diharapkan dapat meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam upaya konservasi. Kesadaran yang tumbuh melalui pengalaman berkunjung diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari menjaga kebersihan lingkungan hingga mendukung perlindungan ekosistem pesisir.
Dengan pengelolaan kunjungan melalui sistem kuota dan penguatan fungsi edukasi, pembukaan kembali fasilitas mangrove tracking dan Mangrove Information Center di Tahura Ngurah Rai diharapkan memberikan manfaat yang lebih luas. Kawasan ini tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga sarana pembelajaran mengenai pentingnya menjaga keseimbangan alam dan kelestarian lingkungan pesisir Bali.










