TVRINews, Denpasar
Musim kemarau 2026 meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran dan kekeringan di Bali. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mencatat 173 kejadian kebakaran gedung dan permukiman serta 44 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang 11 April hingga 6 September 2026.
Dari 44 kejadian karhutla tersebut, luas area yang terbakar mencapai 196,68 hektare. Kabupaten Buleleng menjadi wilayah dengan luasan karhutla terbesar, yakni 159,07 hektare.
Sementara itu, kebakaran gedung dan permukiman yang tercatat dalam periode yang sama menyebabkan estimasi kerusakan mencapai Rp2,63 miliar.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya mengatakan kondisi kebakaran dalam sepekan terakhir masih relatif terkendali. Meski tidak ada kejadian menonjol, masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan karena kondisi kemarau dapat memperbesar risiko kebakaran.
“Di musim kemarau ini cenderung meningkat kejadian-kejadian kebakaran. Yang kita waspadai adalah kebakaran di sektor permukiman, kemudian di hutan dan lahan, dan juga TPA,” ujar Kalaksa BPBD Bali.
Berdasarkan catatan BPBD, selain Buleleng, karhutla juga terjadi di sejumlah wilayah lainnya. Di Klungkung, kebakaran melanda sekitar 15 hektare hutan di Kecamatan Nusa Penida dan dua hektare lahan kosong di Gunaksa.
Di Karangasem, kebakaran tercatat sekitar 6,63 hektare di Kecamatan Kubu yang meliputi lahan pertanian dan lahan kosong. Kebakaran juga terjadi di Kecamatan Abang dengan luas sekitar 2,10 hektare lahan kosong.
Sementara di Jembrana, sekitar 8,05 hektare lahan kosong terdampak kebakaran. Di Bangli, khususnya Kecamatan Kintamani, luas hutan yang terbakar mencapai sekitar 3,83 hektare.
BPBD Bali menyebut kondisi vegetasi yang mengering selama musim kemarau menjadi salah satu faktor yang membuat api lebih mudah menyebar. Rumput dan ilalang yang kering dapat menjadi bahan bakar ketika muncul sumber api.
Namun, penyebab kebakaran tidak selalu berasal dari faktor alam. Aktivitas manusia juga dapat menjadi pemicu, terutama ketika kondisi lingkungan sedang sangat kering.
“Biasanya tidak ada penyebab tunggal, selalu ada kombinasi. Memang situasinya sekarang sangat kering. Banyak lahan yang rumput ilalang dan sebagainya sangat kering,” katanya.
Menurut BPBD, sumber api yang kecil sekalipun dapat berkembang cepat ketika berada di lingkungan dengan tingkat kekeringan tinggi.
“Sedikit saja ada pemicu, itu bisa berbahaya. Karena perilaku kita juga sangat possible untuk memicu itu,” ujarnya.
Kebakaran Permukiman
Selain karhutla, kebakaran gedung dan permukiman juga menjadi perhatian. Dari 173 kejadian yang tercatat, Buleleng berada di urutan teratas dengan 47 kejadian, disusul Denpasar 41 kejadian dan Badung 24 kejadian.
Selanjutnya, Karangasem mencatat 15 kejadian, Jembrana dan Klungkung masing-masing 12 kejadian, Bangli sembilan kejadian, Gianyar delapan kejadian, serta Tabanan lima kejadian.
Total estimasi kerusakan akibat 173 kejadian tersebut mencapai Rp2.631.550.000.
BPBD mengingatkan masyarakat untuk memeriksa kondisi instalasi listrik secara berkala. Penggunaan kabel atau colokan yang tidak sesuai standar, termasuk sambungan listrik yang berlebihan, dapat meningkatkan risiko kebakaran.
Masyarakat juga diminta lebih berhati-hati terhadap aktivitas yang dapat memunculkan api, terutama di wilayah dengan kondisi lahan kering.
“Instalasi listriknya dicek kembali. Kemudian perilaku kita juga, mungkin membuang puntung rokok ataupun yang lain yang bisa memicu api, itu kita upayakan dikendalikan,” kata Kalaksa BPBD Bali.
TPA Juga Jadi Perhatian
Ancaman kebakaran selama musim kemarau juga menyasar lokasi pengelolaan sampah. BPBD Bali memantau sejumlah kejadian kebakaran di tempat pengolahan dan pembuangan sampah.
Di antaranya TPST 3R Culik, Kecamatan Abang, Karangasem, yang terdampak sekitar 10 are, serta TPST 3R Tejakula di Buleleng.
Sementara itu, TPA Suwung di Jalan Bypass Ngurah Rai, Desa Sanggaran, Kecamatan Denpasar Selatan, sempat terdampak kebakaran dengan luas sekitar dua are.
Sejumlah kejadian tersebut dapat dikendalikan berkat respons petugas dan koordinasi tim di lapangan. Meski demikian, BPBD mengingatkan risiko kebakaran masih perlu diantisipasi karena musim kemarau diperkirakan berlangsung lebih panjang dan kering di sejumlah wilayah.
Kekeringan Ancam Sawah
Dampak musim kemarau tidak hanya terlihat dari meningkatnya risiko kebakaran. Kekeringan juga mulai mengancam ketersediaan air untuk sektor pertanian.
BPBD Bali mencatat sekitar 150 hektare sawah di Jembrana dan Buleleng berpotensi mengalami kekurangan air. Rinciannya, sekitar 50 hektare berada di Jembrana dan 100 hektare di Buleleng.
Kondisi tersebut berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman apabila berlangsung dalam waktu panjang. Namun, BPBD menegaskan ancaman kekurangan air tersebut belum otomatis berarti terjadi gagal panen.
Petani bersama pemerintah daerah masih melakukan berbagai upaya untuk menjaga pasokan air dan mengurangi risiko kerugian.
“Semua saat ini masih berusaha, baik petani maupun dibantu oleh pemerintah setempat, berupaya untuk jangan sampai gagal panen,” ujar Kalaksa BPBD Bali.
Distribusi air bersih juga masih dilakukan di sejumlah wilayah yang mengalami kekurangan air, termasuk Jembrana, Buleleng, dan Nusa Penida.
BPBD menyebut kondisi kekurangan air saat ini belum separah beberapa tahun sebelumnya. Namun, kebutuhan distribusi air tetap menjadi perhatian karena musim kemarau masih berlangsung.
Dalam jangka panjang, penguatan infrastruktur dan instalasi air dinilai diperlukan untuk mengurangi dampak kekeringan.
“Ke depan sebenarnya bisa dikurangi kalau saja infrastruktur, instalasi air diperkuat kembali sehingga masalah-masalah seperti ini bisa dikurangi,” katanya.
Kesiapsiagaan Jadi Kunci
Menghadapi risiko kebakaran dan kekeringan, BPBD Bali menekankan pentingnya kesiapsiagaan sejak tingkat keluarga hingga pemerintah daerah.
Masyarakat diminta tidak hanya mengandalkan petugas ketika kebakaran terjadi, tetapi juga memahami risiko di lingkungan masing-masing dan melakukan pencegahan sejak dini.
“Siapa yang harus lebih waspada? Kita semua. Mulai dari tingkat keluarga, masyarakat itu sendiri, tetangganya, kemudian dari tingkat pemerintah tentu dari bawah,” ujarnya.
BPBD mengimbau masyarakat melakukan pemeriksaan jaringan listrik, menghindari penggunaan kabel dan colokan yang tidak standar, serta menjauhkan material mudah terbakar dari sumber api.
Ketersediaan alat pemadam api ringan atau APAR di lingkungan permukiman dan fasilitas publik juga dinilai penting sebagai bagian dari kesiapsiagaan.
“Yang penting adalah kewaspadaan tadi, memahami risiko setempat di mana kita berada. Dan apa yang mesti dilakukan itu sudah normal sebenarnya, sudah diketahui. Cuma kesadarannya ini terhadap risiko ini yang perlu dikuatkan.”
Dengan musim kemarau yang masih berlangsung, BPBD Bali meminta masyarakat tidak menganggap remeh potensi kebakaran maupun kekeringan. Kewaspadaan dan pencegahan sejak dini dinilai menjadi langkah penting untuk menekan dampak terhadap keselamatan, lingkungan, dan sektor pertanian.










