TVRINews, Denpasar
Erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak terhadap konektivitas penerbangan dari dan menuju Bali, terutama pada sejumlah rute domestik. Pemerintah Provinsi Bali berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan penumpang yang terdampak pembatalan maupun penyesuaian jadwal penerbangan tetap mendapatkan penanganan.
Gangguan penerbangan terjadi di sejumlah bandara, termasuk Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali dan Bandara Soekarno-Hatta, setelah abu vulkanik dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau menyebar ke ruang udara dan memengaruhi operasional penerbangan.
Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan Pemprov Bali telah berkoordinasi dengan pengelola bandara untuk memastikan penumpang yang terdampak, khususnya pengguna penerbangan rute Bali-Jakarta, memperoleh pelayanan yang memadai di tengah gangguan operasional.
“Kami sudah berkoordinasi dengan pihak bandara untuk menangani penumpang yang terdampak, terutama untuk penerbangan Bali-Jakarta,” kata Wayan Koster.
Berdasarkan data Bandara I Gusti Ngurah Rai hingga Minggu sore, sebanyak 42 penerbangan tercatat mengalami pembatalan atau penyesuaian jadwal akibat dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 30 penerbangan dari Bali menuju Bandara Soekarno-Hatta dibatalkan, sedangkan satu penerbangan pada rute yang sama mengalami penundaan (delay).
Gangguan juga terjadi pada rute sebaliknya. Sebanyak tujuh penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara I Gusti Ngurah Rai tercatat dibatalkan.
Selain rute Bali-Jakarta, dampak erupsi turut dirasakan pada penerbangan dari Bali menuju kota lain. Dua penerbangan menuju Bandara Halim Perdanakusuma serta dua penerbangan menuju Bandung ikut terdampak.
Gangguan terhadap penerbangan tersebut terjadi karena abu vulkanik hasil erupsi Gunung Anak Krakatau menyebar ke ruang udara. Keberadaan abu vulkanik dapat membahayakan keselamatan penerbangan sehingga menjadi faktor utama dalam penghentian sementara rute.
Meski penerbangan domestik terdampak, Gubernur Bali menyebut penerbangan internasional menuju Bali hingga saat ini tidak mengalami gangguan akibat fenomena tersebut.
Secara nasional, dampak erupsi Gunung Anak Krakatau cukup signifikan. Kementerian Perhubungan mencatat sekitar 1.558 penerbangan terdampak akibat penutupan sementara delapan bandara.
Pemerintah bersama instansi terkait terus melakukan pemantauan sebaran abu vulkanik, salah satunya melalui pengujian paper test secara berkala untuk mengetahui keberadaan abu vulkanik di wilayah yang terdampak.
Pemprov Bali berharap aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau segera mereda sehingga konektivitas penerbangan, khususnya rute domestik Bali-Jakarta, dapat kembali normal.
Di tengah kondisi tersebut, calon penumpang yang akan melakukan perjalanan melalui Bandara I Gusti Ngurah Rai maupun bandara lain diimbau untuk memastikan kembali status penerbangannya kepada pihak maskapai sebelum berangkat ke bandara.










