Badung, Bali
Operasi pencarian terhadap dua korban tanah longsor di kawasan Pelaga Eco Park Glamping Retreat, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, masih belum membuahkan hasil.
Kedua korban yang masih dalam pencarian masing-masing bernama Bangkit Khoirul Mubarok, warga negara Indonesia (WNI), dan Sacha Erich Schubert, warga negara asing (WNA) asal Jerman. Keduanya diketahui merupakan pengunjung yang menginap di salah satu bangunan glamping di kawasan wisata tersebut ketika bencana terjadi.
Tim SAR gabungan masih dihadapkan pada sejumlah kendala teknis di lapangan. Kondisi geografis kawasan perbukitan yang cukup terjal, disertai struktur tanah yang masih labil, menjadi tantangan utama dalam proses pencarian dan evakuasi.
Selain itu, akses jalan menuju titik utama longsor yang relatif sempit menyebabkan alat berat tidak dapat dimobilisasi secara optimal ke lokasi kejadian. Kondisi ini membuat petugas harus mengandalkan peralatan manual untuk membersihkan material longsoran yang menutupi area pencarian.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Denpasar, I Nyoman Sidakarya, mengatakan pencarian sementara dilakukan secara manual dengan tetap mempertimbangkan keselamatan seluruh personel. Potensi pergerakan tanah susulan menjadi salah satu hal yang harus diwaspadai selama operasi berlangsung.
Dalam keterangannya, Sidakarya menjelaskan bahwa kondisi akses dan tanah di sekitar lokasi belum memungkinkan penggunaan alat berat secara maksimal.

"Melihat dari akses, kemungkinan tidak bisa alat berat karena jalur menuju lokasi sangat kecil dan kita masih menggunakan alat secara manual," ujar Sidakarya, dikutip Rabu, 4 November 2026.
Petugas memanfaatkan sejumlah peralatan, di antaranya gergaji mesin atau chainsaw, cangkul, serta perlengkapan pendukung lainnya untuk membuka akses dan membersihkan material longsoran. Pembersihan dilakukan di sekitar titik kejadian hingga area aliran sungai yang menjadi salah satu fokus penyisiran.
Sementara itu, operasi pencarian dibagi ke dalam beberapa sektor untuk memperluas jangkauan penyisiran. Tim SAR gabungan tidak hanya memusatkan pencarian di sekitar lokasi bangunan glamping yang terdampak, tetapi juga menelusuri aliran sungai ke arah hilir. Strategi ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan korban terbawa material longsoran dan arus sungai.
Hingga Selasa sore, 3 November 2026, tim SAR gabungan telah melakukan penyisiran sepanjang aliran sungai sejauh kurang lebih 2,5 kilometer dari titik awal kejadian. Meski demikian, keberadaan kedua korban belum berhasil diketahui.
Sidakarya menyebutkan, radius pencarian akan kembali diperluas pada operasi hari ketiga. Area penyisiran direncanakan mencapai tiga hingga 3,5 kilometer ke arah hilir sungai dari lokasi awal longsor. Perluasan area ini diharapkan dapat meningkatkan peluang ditemukannya kedua korban.
"Kami sekarang mengembangkan radius pencarian 2,5 kilometer dan besok mungkin dikembangkan menjadi 3 atau 3,5 kilometer," kata Sidakarya.
Operasi pencarian juga dipastikan tetap berlangsung, meskipun bertepatan dengan Hari Raya Pagerwesi bagi umat Hindu di Bali. Basarnas bersama seluruh unsur SAR gabungan tetap mengerahkan personel sesuai prosedur operasi dan mengutamakan keselamatan petugas di tengah kondisi medan yang masih berisiko.
Pencarian dijadwalkan dimulai sejak pukul 07.00 WITA melalui pengarahan personel atau briefing, kemudian dilanjutkan dengan evaluasi pada sore hari untuk menentukan strategi operasi berikutnya.
Sebelumnya, tanah longsor menerjang kawasan Pelaga Eco Park Glamping Retreat pada Minggu 1 November 2026 sekitar pukul 23.00 WITA. Peristiwa tersebut dipicu hujan deras yang mengguyur kawasan Desa Pelaga dan menyebabkan material tanah bergerak hingga menerjang sejumlah bangunan glamping di lokasi tersebut. Salah satu bangunan bahkan dilaporkan hanyut terbawa arus sungai.
Dari total 23 tamu yang menginap saat kejadian, sebanyak 21 orang berhasil selamat. Sementara dua orang lainnya hingga kini masih dinyatakan hilang dan menjadi sasaran operasi pencarian tim SAR gabungan.
Tim SAR memastikan upaya pencarian akan terus dioptimalkan dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi lapangan, termasuk kemungkinan perluasan area penyisiran dan faktor keselamatan personel.









